Categories
Gaya Hidup Imunitas

Mulai Merasakan Gejala COVID-19? Segera Lakukan 10 Hal Ini!

Merasa badan tidak enak sedikit saja di masa pandemi COVID-19 sudah dapat menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa. Terlebih lagi, jika Anda mulai merasakan gejala COVID-19.

Namun, jangan khawatir, karena ada beberapa tindakan penting yang bisa Anda lakukan untuk membuat kondisi tubuh jauh lebih baik.

Nah, apa saja hal-hal yang dapat membantu meredakan gejala COVID-19? Dan kapan Anda perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter? Yuk, cek di sini jawabannya!

Gejala COVID-19

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dengan COVID-19 mengalami sejumlah gejala yang pernah dilaporkan, mulai dari gejala ringan hingga parah [1].

Gejala COVID-19 dapat muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus, dan siapapun bisa mengalami gejala ringan hingga berat.

Jika Anda terinfeksi virus SARS-Cov-2, penyebab COVID-19, Anda mungkin akan mengalami:

Gejala lainnya yang juga dapat terjadi seperti:

  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat atau pilek.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kehilangan rasa atau bau.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang yang memiliki riwayat kesehatan mendasar yang parah (komorbid), seperti penyakit jantung, paru-paru, atau diabetes, cenderung lebih berisiko mengembangkan komplikasi penyakit COVID-19 yang lebih parah.

Gejala COVID-19 vs flu biasa

Tidak sedikit orang yang ragu dengan gejala yang dialaminya, apakah itu gejala COVID-19 atau sekadar flu biasa. Berikut beberapa poin perbedaannya [2]:

  • Gejala COVID-19 biasanya berkembang secara bertahap, sedangkan gejala flu biasanya terjadi secara tiba-tiba.
  • Sebagian besar gejala umum flu (seperti nyeri, kedinginan, dan sakit kepala) adalah gejala yang kurang umum dari penyakit COVID-19.
  • Demam adalah gejala umum COVID-19, tetapi tidak semua orang yang terserang flu juga mengalami demam.
  • Gejala awal yang umum dari flu biasa adalah sakit tenggorokan, pilek, atau hidung tersumbat, dan ini lebih jarang terjadi pada COVID-19.
  • Bersin adalah gejala umum flu biasa, tetapi jarang terjadi pada COVID-19.

Sebuah studi di Cina menyelidiki keparahan gejala COVID-19 di antara 55.924 kasus. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 80% orang mengalami gejala ringan hingga sedang, 13,8% orang mengalami gejala parah, dan 6,1% orang mengalami gejala yang sangat parah sehingga membutuhkan perawatan intensif [3].

10 Hal yang harus dilakukan saat merasakan gejala COVID-19

Begitu Anda mulai merasakan gejala COVID-19, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tetap di rumah (isolasi mandiri), kecuali jika Anda mendapatkan perawatan medis secara intensif.

Hal ini bertujuan agar Anda tetap terpisah dari orang lain dan mencegah penyebaran COVID-19.

Selama Anda isolasi mandiri, upayakan untuk tetap [2, 3, 4, 5]:

  1. Memakai masker.
  2. Menjaga jarak setidaknya 6 kaki dari orang lain.
  3. Sering-sering mencuci tangan dengan sabun dan air atau handsanitizer.
  4. Menutupi batuk dan bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah dan cuci tangan Anda.
  5. Bersihkan permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan setiap hari.
  6. Jika memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi terpisah dengan anggota keluarga lainnya.
  7. Tidak berbagi piring, cangkir, gelas minum, peralatan makan, handuk, ataupun barang pribadi lainnya dengan orang lain di rumah Anda.
  8. Pantau terus gejala yang Anda alami. Jika semakin memburuk, jangan ragu untuk menghubungi layanan medis terdekat untuk mendapatkan perawatan secara intensif.
  9. Mengikuti instruksi dokter Anda dengan baik, termasuk cara merawat diri sendiri saat sakit dan melakukan tes COVID-19.
  10. Segera dapatkan pertolongan medis jika Anda mengalami gejala COVID-19 seperti sulit bernapas, nyeri di bagian dada, tidak mampu bangun, serta kulit dan bibit berubah menjadi pucat.

Cara merawat diri sendiri di rumah saat sakit

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa kebanyakan orang yang mengalami gejala COVID-19 ringan mulai membaik setelah sekitar satu minggu [6].

Meskipun hingga saat ini tidak ada pengobatan khusus yang disetujui untuk menyembuhkan COVID-19, ada beberapa cara merawat diri sendiri di rumah jika Anda bergejala ringan, yaitu:

  • Cukup istirahat agar tubuh lebih kuat melawan infeksi virus.
  • Minum air lebih banyak agar tubuh tetap terhidrasi.
  • Jaga pola makan sehat dan bergizi seimbang. Pastikan asupan buah dan sayuran terpenuhi, karena banyak vitamin dan mineral penting di dalamnya untuk daya tahan tubuh yang kuat.
  • Anda dapat menggunakan obat yang dijual bebas untuk membantu meringankan gejala seperti demam, nyeri, dan sakit kepala.
  • Pastikan stok tisu tersedia untuk berjaga-jaga jika Anda batuk atau bersin. Ingat, selalu buang tisu ke dalam tong sampah dan cuci tangan dengan bersih setelah batuk, bersin, atau membuang ingus.
  • Jaga dan tingkatkan kekebalan tubuh Anda dengan suplemen kesehatan yang aman untuk dikonsumsi, seperti Nissan Reishi.

Nissan Reishi, suplemen terbaik untuk meningkatkan kekebalan tubuh

Nissan Reishi adalah suplemen kesehatan dari ekstrak jamur Reishi murni yang diproses secara alami, sehingga kandungan zat gizinya terjaga dengan baik.

Jamur Reishi – atau dikenal juga dengan sebutan Lingzhi – dapat membantu memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh Anda.

Ini karena jamur Reishi mengandung serat beta-glucan yang bertindak sebagai imunomodulator, sehingga dapat meningkatkan aktivitas sel makrofag dan sel pembunuh alami di dalam tubuh [7].

Selain itu, polisakarida alami dalam jamur Reishi ini juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh adaptif pada pasien kanker, di mana terjadi peningkatan kadar IgA, IgG, dan IgM setelah mereka mengonsumsi Reishi bersama dengan pengobatan kanker lainnya [8].

imunomodulator-lingzhi-japan
Original by Lingzhi Japan

Jika Anda ingin meningkatkan kekebalan tubuh Anda, sehingga gejala COVID-19 ringan yang Anda alami tidak semakin parah, Nissan Reishi bisa menjadi pelengkap terbaik upaya Anda.

Dapatkan informasi lebih lanjut tentang Nissan Reishi di sini!

Original featured image by DCStudio – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Kelelahan

Susah Tidur? Coba 5 Minuman Sehat Ini, Yuk!

Paling kesal rasanya kalau insomnia sudah menyerang, apalagi besok tubuh harus siap beraktivitas kembali. Tenang, ada solusi efektif bagi Anda yang mengalami susah tidur. Yaps, tidak ada salahnya jika Anda mencoba 5 minuman sehat ini untuk membantu tidur lebih nyenyak.

Bahkan, Anda juga bisa memperoleh manfaat kesehatan lainnya yang juga tidak kalah penting. Nah, apa saja sih 5 minuman sehat tersebut? Ini dia!

5 Minuman sehat bantu atasi susah tidur

Berikut 5 minuman sehat yang dapat membantu Anda tidur lebih nyenyak.

1. Teh chamomile

Sebagian dari Anda mungkin tidak asing lagi dengan jenis teh yang satu ini. Teh chamomile adalah teh yang dibuat dengan cara memasukkan bunga chamomile ke dalam air panas.

Teh chamomile sudah dikenal sejak lama dapat mengatasi susah tidur (insomnia), karena memberikan efek menenangkan [1]. Plus, teh ini bebas kafein, sehingga cocok untuk orang-orang yang sensitif kafein [2].

Hal ini juga telah dibuktikan oleh para ahli bahwa efeknya tersebut berasal dari kandungan flavonoidnya, terutama apigenin. Ini adalah kelompok flavonoid yang dapat mengikat reseptor benzodiazepine di otak, yang memiliki efek sedatif [1].

Manfaat kesehatan lainnya juga termasuk meredakan gejala pilek, mengurangi peradangan, dan meningkatkan kesehatan kulit.

Cara membuatnya

  • Tambahkan 4 sendok makan bunga chamomile segar atau 2 sendok makan bunga chamomile kering ke dalam 1 cangkir (237 ml) air panas.
  • Rendam bunga chamomile selama sekitar 5 menit, lalu saring.
  • Teh chamomile siap diminum.

Teh ini aman diminum setiap hari. Konsumsi bunga chamomile dalam bentuk teh atau suplemen lainnya belum dikaitkan dengan efek samping negatif.

2. Jus ceri

Jus ceri adalah salah satu minuman sehat yang dapat membantu Anda tidur lebih nyenyak. Berbagai studi terkait ini menemukan bahwa campuran jus ceri asam dapat meningkatkan kualitas tidur secara signifikan [3, 4].

Hal ini diduga karena ceri meningkatkan ketersediaan triptofan di dalam tubuh. Triptofan adalah asam amino yang berperan sebagai prekursor hormon melatonin – hormon yang membantu mengatur aktivitas tidur Anda.

Tips mengonsumsinya

Menurut penelitian, minum 2 cangkir (480 ml) jus ceri setiap hari selama 2 minggu dapat meningkatkan total waktu tidur Anda sebesar 84 menit dan membantu mengobati gejala insomnia pada orang dewasa berusia 50 tahun ke atas [5].

Plus, minum 2 cangkir (480 ml) per hari juga belum dikaitkan dengan efek samping apa pun [6].

3. Teh peppermint

Umumnya, daun peppermint terkenal dengan kegunaan kulinernya. Namun, daun ini juga dapat dijadikan sebagai minuman sehat untuk membuat Anda tidur nyenyak di malam hari.

Teh peppermint diyakini memiliki sifat antivirus, antimikroba, bahkan anti-alergi. Selain itu, juga dapat membantu meredakan sakit perut di malam hari yang mungkin membuat Anda susah tidur.

Meski begitu, perlu lebih banyak uji klinis terkait peran teh peppermint terhadap tidur secara langsung [7].

Cara membuatnya

  • Rebus 2 gelas (480 ml) air dan tambahkan segenggam daun peppermint ke dalamnya. Anda dapat menyesuaikan jumlah daunnya sesuai selera Anda.
  • Biarkan daun di dalam air panas setidaknya selama 5 menit, kemudian saring.
  • Teh peppermint siap diminum.

Teh peppermint umumnya aman, tetapi dapat berinteraksi dengan tekanan darah tertentu, masalah pencernaan, dan obat diabetes [8, 9]. Jadi, jika Anda sedang mengonsumsi obat apa pun, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter Anda sebelum minum teh ini.

4. Susu hangat

Sebagian dari Anda mungkin sudah sering minum susu hangat untuk membantu cepat tidur di malam hari.

Ini karena susu mengandung asam amino triptofan yang dapat meningkatkan serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter untuk perasaan bahagia dan sejahtera, sekaligus prekursor hormon pengatur tidur (melatonin).

Dengan meningkatnya kadar melatonin, dapat meningkatkan kualitas tidur dan membantu mengatasi berbagai masalah tidur Anda, termasuk jet lag dan susah tidur [10, 11].

Tips mengonsumsinya

Jika Anda ingin mencoba minum susu hangat sebelum tidur, cukup pilih susu favorit Anda dan didihkan di atas kompor dengan api kecil selama beberapa menit.

Ingat, pastikan Anda tidak memiliki alergi susu atau laktos intoleran, ya!

5. Susu Almond

Minuman sehat selanjutnya yang dapat membantu mengatasi susah tidur adalah susu almond. Seperti namanya, susu ini jelas terbuat dari kacang almond yang tinggi serat, vitamin, dan mineral.

Studi menunjukkan bahwa kacang almond utuh dapat meningkatkan kualitas tidur. Masyarakat Iran telah menggunakan minyak violet yang terbuat dari almond atau biji wijen selama bertahun-tahun sebagai pengobatan insomnia [12].

Susu almond kaya akan hormon dan mineral yang dapat meningkatkan kualitas tidur Anda, termasuk triptofan, melatonin, dan magnesium [13, 14]. Dalam 1 cangkir (237 ml) susu almond mengandung hampir 17 mg magnesium [15].

Cara membuatnya

  • Rendam kacang almond semalaman.
  • Blender kacang almond yang sudah direndam semalaman dengan air. Biasanya, perbandingan kacang almond dan air 1:3, atau bisa lebih sedikit airnya jika ingin susu yang kental.
  • Saring dan peras susu almond ke dalam cangkir.
  • Anda bisa menambahkan sedikit garam dan gula untuk menambahkan rasa gurih dan manis.
  • Susu almond siap dinikmati.

Karena terbuat dari kacang yang dapat menjadi alergen bagi sebagian orang, susu almond tidak boleh diminum jika Anda alergi kacang.

Inilah 5 minuman sehat yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur Anda. Aneka minuman ini tentunya bebas kafein yang merupakan penyebab utama seseorang susah tidur. Jadi, hindari minum minuman berkafein, seperti teh dan kopi sebelum tidur, ya!

Original featured image by yanalya – www.freepik.com

Categories
Alergi Imunitas

Inilah Cara Kerja Sistem Imun Tubuh yang Perlu Dipahami

Cara kerja sistem imun di dalam tubuh memang tidak dapat Anda rasakan selama aktivitasnya berjalan dengan baik. Namun, sistem kekebalan tubuh yang melemah dapat menyebabkan Anda mudah mengalami sakit. Nah, kira-kira seperti apa sih cara kerja benteng pertahanan tubuh Anda ini? Yuk, langsung simak di sini!

Tugas sistem imun

Tahukah Anda? Tanpa sistem kekebalan, Anda tidak akan memiliki cara untuk melawan hal-hal asing dan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab itu, tugas utama sistem imunitas tubuh adalah [1]:

  • Melawan kuman penyebab penyakit (patogen), seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, dan mengeluarkannya dari tubuh Anda.
  • Mengenali dan menetralisir zat berbahaya yang masuk dari lingkungan.
  • Melawan perubahan penyebab penyakit di dalam tubuh, seperti sel kanker.

Bagian-bagian sistem imun

inilah-cara-kerja-sistem-imun-tubuh-yang-perlu-dipahami-lingzhi-japan-anatomi
Sumber: Geeky Medics

Sel darah putih (leukosit) adalah sel yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Leukosit beredar di dalam tubuh melalui pembuluh darah dan pembuluh limfatik, sejajar dengan vena dan arteri.

Sel darah putih terus berpatroli dan mencari patogen. Ketika sel ini menemukan targetnya, mereka mulai berkembang biak dan mengirim sinyal ke jenis sel lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Tubuh Anda menyimpan sel darah putih di bagian yang berbeda di dalam tubuh, yang disebut sebagai organ limfoid, meliputi [2]:

  • Kelenjar timus (di antara paru-paru dan tepat di bawah leher).
  • Kelenjar limpa (di kiri atas perut).
  • Sumsum tulang (di tengah tulang).
  • Kelenjar getah bening (di seluruh tubuh yang dihubungkan oleh pembuluh limfatik).

Ada dua jenis leukosit yang utama di dalam tubuh, yaitu [2]:

1. Fagosit

Fagosit mengelilingi dan menyerap patogen, kemudian memecahnya dan memakannya. Beberapa jenis sel fagosit di dalam tubuh, antara lain:

  • Neutrofil: paling umum dan cenderung menyerang bakteri.
  • Monosit: jenis terbesar dan memiliki beberapa peran.
  • Makrofag: berpatroli untuk patogen, serta menghilangkan sel-sel mati dan sekarat.
  • Sel mast: memiliki banyak peranan, termasuk membantu melawan patogen dan menyembuhkan luka.

2. Limfosit

Sel limfosit bertugas membantu tubuh untuk mengingat penyerbu sebelumnya dan mengenali mereka jika suatu saat menyerang lagi.

Limfosit memulai hidupnya di sumsum tulang. Beberapa tinggal di sana dan berkembang menjadi limfosit B (sel B). Beberapa ada yang menuju kelenjar timus dan berkembang menjadi limfosit T (sel T).

Kedua jenis sel ini memiliki peran yang berbeda, yaitu:

  • Limfosit B: menghasilkan antibodi dan membantu mengingatkan limfosit T.
  • Limfosit T: menghancurkan sel-sel yang terganggu di dalam tubuh dan membantu mengingatkan leukosit lainnya.

Cara kerja sistem imun tubuh

Sistem imun pertama kali diaktifkan oleh berbagai zat ‘asing’ yang tidak dikenali oleh tubuh sebagai ‘miliknya’.

Semua partikel atau zat yang memicu respons imun disebut juga dengan antigen. Misalnya bakteri, jamur, virus, toksin, atau benda asing.

Ketika antigen tersebut menempel pada reseptor khusus di sel-sel imun, seluruh rangkaian proses perlawanan dalam tubuh Anda pun dimulai. Berbagai jenis sel bekerja sama untuk mengenali antigen sebagai penyerbu.

Berikut cara kerja sistem imun di dalam tubuh [3, 4, 5]:

1. Limfosit B

Ini adalah bagian dari sel darah putih yang bertugas untuk menghasilkan antibodi setelah menemukan antigen.

Antibodi adalah protein khusus yang mengunci antigen spesifik. Setiap sel B Anda akan membuat satu antibodi spesifik.

Misalnya, Anda mungkin membuat antibodi terhadap bakteri yang menyebabkan pneumonia, sementara yang lain mungkin mengenali virus flu biasa.

Berbagai antibodi yang memainkan banyak peran dalam respons imun, yaitu:

  • Immunoglobulin G (IgG): menandai mikroba, sehingga sel lain dapat mengenali dan membunuhnya.
  • IgM: membunuh bakteri.
  • IgA: berkumpul dalam cairan, seperti air mata dan air liur, untuk melindungi pintu gerbang tubuh Anda.
  • IgE: melindungi dari parasit dan juga bertanggung jawab atas reaksi alergi.
  • IgD: terikat pada limfosit B yang membantu mereka untuk memulai respons imun.

Antibodi ini akan mengunci antigen, tetapi tidak membunuhnya. Jadi, hanya menandainya untuk dimatikan. Sementara yang bertugas untuk membunuhnya adalah sel lain, seperti fagosit.

2. Limfosit T

Ada beberapa jenis limfosit T yang perlu diketahui, yaitu:

Sel T pembantu (helper T cells)

Sel ini bertugas mengoordinasikan respons imun Anda. Beberapa ada yang berkomunikasi dengan sel lain, dan beberapa merangsang limfosit B untuk menghasilkan lebih banyak antibodi. Ada pula yang menarik lebih banyak limfosit T atau fagosit pemakan sel.

Sel T pembunuh (killer T cells)

Seperti namanya, jenis limfosit T ini bertugas menyerang sel lain, alias memerangi virus. Sel-sel ini bekerja dengan cara mengenali bagian-bagian kecil dari virus di luar sel yang terinfeksi dan menghancurkan sel yang terinfeksi.

Limfosit B diibaratkan sebagai sistem intelijen militer tubuh, yang bertugas menemukan targetnya dan mengirim pertahanan untuk mengunci mereka. Sementara limfosit T diibaratkan sebagai tentara, yang bertugas menghancurkan penjajah yang telah ditemukan oleh sistem intelijen [4].

Sel-sel tubuh Anda pun sebenarnya juga memiliki protein di permukaannya. Namun, protein ini biasanya tidak memicu sistem kekebalan untuk melawan sel tersebut.

Dalam beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh secara keliru mengira bahwa sel-sel tubuhnya adalah asing. Akhirnya, menyerang sel-sel yang sehat dan tidak berbahaya tersebut. Inilah yang akhirnya dikenal sebagai gangguan autoimun.

Kesimpulan

Inilah cara kerja sistem imun di dalam tubuh yang perlu Anda pahami. Sel-selnya saling bekerja sama untuk melindungi tubuh Anda dari berbagai zat berbahaya. Oleh sebab itu, Anda harus menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda, agar tidak mudah terserang penyakit.

Original featured image by tirachardz – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Lemak Berlebih

Susah Turun Berat Badan? Mungkin Asupan Serat Ini Belum Terpenuhi!

Serat adalah salah satu zat gizi penting yang menawarkan banyak manfaat untuk kesehatan Anda. Salah satu manfaat memenuhi asupan serat harian adalah membantu penurunan berat badan yang sehat.

Sayangnya, masih banyak orang yang belum tahu kalau ‘jenis serat’ ini juga penting untuk program diet. Nah, apa sih jenis serat itu? Seberapa efektifkah serat tersebut untuk menurunkan berat badan Anda mencapai ideal? Let’s check it out!

Apa itu serat?

Serat adalah jenis karbohidrat yang tidak dapat dicerna oleh manusia yang ditemukan secara alami dalam makanan nabati [1].

Contoh makanan nabati yang kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan polong-polongan.

Selain serat, makanan tersebut juga mengandung vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya yang diperlukan untuk kesehatan tubuh yang optimal.

Meskipun serat tidak dapat dicerna, tetapi mencukupi asupan serat harian sangat berdampak positif bagi kesehatan Anda.

Jenis serat

Ada dua jenis serat, yaitu serat larut dan tidak larut. Keduanya sama-sama penting untuk kesehatan Anda dengan cara kerjanya yang berbeda di dalam tubuh [2].

1. Serat larut

Serat larut adalah jenis serat yang dapat menarik air dan membentuk gel, seperti beta-glucan dan glukomanan. Gel tersebut menyebabkan proses pencernaan Anda menjadi lebih lambat, yang pada gilirannya bermanfaat untuk menurunkan berat badan.

Contoh makanan tinggi serat larut termasuk gandum, kacang-kacangan, dan kulit tumbuhan yang dapat dimakan.

2. Serat tidak larut

Serat tidak larut adalah jenis serat yang ‘menolak’ air, sehingga bermanfaat untuk menambah kepadatan feses dan membantu pergerakan makanan di saluran pencernaan.

Umumnya, serat ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang mengalami sembelit.

Anda dapat menemukan jenis serat ini di dalam sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian, dedak gandum, serta makanan dari gandum utuh seperti pasta gandum dan beras merah.

Rekomendasi asupan serat harian

Sebagian besar ahli kesehatan merekomendasikan asupan serat dalam diet adalah kombinasi antara serat larut dan tidak larut, di mana 75% berasal dari serat tidak larut dan 25% berasal dari serat larut [3].

Sama halnya dengan University of California San Francisco yang merekomendasikan asupan serat total sebesar 25-30 gram per hari, di mana sekitar seperempat (6-8 gram per hari) berasal dari serat larut [4].

Peran serat dalam menurunkan berat badan

Prinsip utama dalam penurunan berat badan yang sehat adalah defisit kalori. Untuk bisa berhasil melewatinya, tentu Anda perlu mengontrol nafsu makan Anda.

Makan makanan yang dapat menekan nafsu makan dan membuat Anda kenyang lebih lama tentunya dapat mengurangi asupan kalori Anda. Alhasil, Anda bisa menurunkan berat badan tanpa merasa kelaparan.

Di sinilah peran serat sangat dibutuhkan, terutama serat larut seperti beta-glucan, psyllium, glukomanan, dan gum [5]. Serat ini dapat mengurangi nafsu makan dan meningkatkan rasa kenyang, sehingga makan Anda tidak kalap.

Serat larut membentuk gel yang kental. Semakin kental seratnya, semakin baik untuk mengurangi nafsu makan dan asupan makanan Anda.

Gel ini akan memperlambat pengosongan lambung, serta meningkatkan waktu pencernaan dan penyerapan makanan. Hasil akhirnya adalah memberikan Anda rasa kenyang yang lama dan nafsu makan Anda pun berkurang secara signifikan [6, 7].

Di sisi lain, makanan tinggi serat juga cenderung memiliki kepadatan energi yang lebih rendah. Artinya, ini dapat membuat Anda lebih kenyang tanpa harus makan secara berlebihan, sehingga defisit kalori Anda dapat berjalan dengan baik.

Beta-glucan, salah satu serat larut yang penting untuk menurunkan berat badan

Kini Anda tahu bahwa serat larut memainkan peranan yang besar dalam proses penurunan berat badan. Salah satu serat larut yang sudah banyak diteliti oleh para ilmuwan khasiatnya untuk mencegah dan mengatasi obesitas adalah beta-glucan.

Beta-glucan (𝛽-glucan) adalah serat larut yang menjadi populer belakangan ini, karena beberapa sifat fungsional dan bioaktifnya. Perannya bermanfaat dalam resistensi insulin, dislipidemia, hipertensi, dan obesitas.

Kemampuannya berfermentasi dan membentuk larutan yang sangat kental di dalam usus Anda telah menjadi dasar manfaat kesehatannya, terutama menurunkan berat badan [8].

Studi yang diterbitkan di Nutrition tahun 2017 membuktikan bahwa beta-glucan dapat berkontribusi untuk mencegah obesitas lemak visceral. Ini dapat dilihat dari indikator visceral fat, berat badan, IMT, dan lingkar pinggang individu mengalami penurunan secara signifikan dan aman [9].

Ragam makanan kaya beta-glucan

Makanan yang kaya akan beta-glucan termasuk sereal (seperti oat dan barley), beberapa jenis jamur (seperti Reishi, Shiitake, atau Maitake), ragi, rumput laut, dan alga. Gandum dan sorgum juga mengandung beta-glucan dalam jumlah yang lebih sedikit [10].

Sebuah studi yang terbit di Nature Communications tahun 2015 menunjukkan bahwa ekstrak jamur Reishi efektif mengurangi berat badan, peradangan, dan resistensi insulin pada tikus yang diberi diet tinggi lemak.

Ini karena jamur Reishi mengandung senyawa polisakarida (beta-glucan) yang menghasilkan efek anti-obesitas dan memodulasi mikrobiota di usus [11].

Jika Anda tertarik ingin menurunkan berat badan mencapai ideal dengan cara yang sehat, Nissan Reishi bisa menjadi solusi terbaik untuk Anda.

Namun ingat, tingkatkan asupan serat Anda secara bertahap untuk mencegah efek samping dari kelebihan serat, seperti ketidaknyamanan perut, kram, bahkan diare.

Original featured image by rawpixel.com – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Imunitas

Kenali Vaksin dan Cara Kerjanya di dalam Tubuh!

Sudahkah Anda melakukan vaksinasi COVID-19? Saat ini, proses vaksinasi masih gencar dilakukan untuk mencapai herd immunity. Sebenarnya, apa itu vaksin? Seperti apa cara kerjanya di dalam tubuh? Apakah aman atau justru berbahaya, ya? Daripada Anda bingung memikirkan jawabannya, langsung saja simak artikel berikut ini, yuk!

Apa itu vaksin?

Vaksin adalah suspensi mikroorganisme atau racun yang telah dilemahkan, terbunuh, atau terfragmentasi yang diberikan untuk mencegah penyakit [1].

Yaps, vaksin mengandung kuman yang sama dengan penyebab penyakit yang ingin dicegah. Misalnya, vaksin campak mengandung virus campak, vaksin Hib mengandung bakteri Hib, dan vaksin COVID-19 mengandung virus corona yang telah dimatikan.

Menurut World Health Organization (WHO), vaksinasi adalah cara sederhana, aman, dan efektif untuk melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dari penyakit berbahaya [2].

Ini juga merupakan cara tubuh untuk membangun pertahanan alami yang kuat terhadap virus, bakteri, atau mikroorganisme penyebab penyakit infeksi.

Vaksin melatih sistem kekebalan Anda untuk membuat antibodi, sama halnya saat Anda terinfeksi penyakit.

Tenang saja, vaksin hanya mengandung kuman yang sudah dimatikan, sehingga tidak menyebabkan penyakit, membuat gejala penyakit semakin parah, ataupun meningkatkan risiko komplikasi penyakit.

Sebagian besar vaksin diberikan secara injeksi (suntikan). Namun, ada juga yang diberikan secara oral (melalui mulut) atau disemprotkan ke dalam hidung.

Hingga saat ini, sudah banyak vaksin yang tersedia untuk melindungi dari setidaknya 20 penyakit, termasuk tetanus, difteri, pertusis, influenza, dan campak.

Vaksinasi sudah membantu menyelamatkan hingga 3 juta nyawa setiap tahun,” – WHO.

Bagaimana cara kerja vaksin di dalam tubuh?

vaksin-dan-cara-kerjanya-di-dalam-tubuh-lingzhi-japan-img-who
Sumber gambar dari WHO (2020)

Seperti yang telah disebutkan, cara kerja vaksin adalah dengan merangsang sistem kekebalan tubuh Anda untuk menghasilkan antibodi, persis saat Anda terkena penyakit.

Begitu Anda selesai divaksinasi, tubuh Anda akan mengembangkan pertahanannya terhadap penyakit itu tanpa harus terkena penyakitnya terlebih dahulu.

Untuk lebih jelasnya, cara kerja vaksin adalah dengan 3M, yaitu [2]:

  • Mengenali kuman yang menyerang.
  • Menghasilkan antibodi.
  • Mengingat penyakit dan cara melawannya.

Alhasil, jika Anda terkena kuman di suatu hari nanti, sistem kekebalan tubuh Anda sudah dapat mengenali dan menghancurkannya dengan cepat sebelum Anda menjadi sakit.

Sebenarnya, ini sama dengan cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda. Jadi, bisa dikatakan vaksin meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda.

Hal inilah yang membuatnya menjadi ‘obat’ yang sangat ampuh untuk menangani penyakit infeksi. Tidak seperti kebanyakan obat yang digunakan untuk mengobati atau menyembuhkan, vaksin digunakan untuk mencegah penyakit menular, terutama yang belum ada obatnya [3].

Cara kerja vaksin COVID-19

Vaksin COVID-19 tentunya digunakan untuk membantu tubuh Anda mengembangkan kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa harus terkena penyakitnya.

Tubuh memiliki persediaan ‘sel memori’ (limfosit-T) dan sel penghasil antibodi (limfosit-B) untuk mengingat dan melawan kuman, virus, dan zat asing yang masuk ke tubuh di kemudian hari.

Umumnya, tubuh Anda perlu waktu seminggu setelah vaksinasi untuk bisa memproduksi limfosit-T dan limfosit-B.

Maka dari itu, Anda masih berkemungkinan terinfeksi virus penyebab COVID-19 sesaat sebelum ataupun setelah vaksinasi dan kemudian, jatuh sakit karena vaksin tidak punya cukup waktu untuk melindungi Anda.

Ada pula kasusnya setelah vaksinasi COVID-19 sebagian orang mengalami sejumlah gejala, seperti demam, pusing, sakit kepala, dan lainnya. Hal ini normal terjadi dan menandakan kalau tubuh Anda sedang membangun kekebalannya terhadap virus [4, 5, 6].

Vaksinasi dan herd immunity

Tujuan vaksinasi tidak hanya melindungi individu saja, melainkan juga seluruh populasi.

Begitu banyak orang yang sudah divaksinasi, peluang untuk berjangkitnya penyakit menjadi sangat rendah. Bahkan, orang yang tidak divaksinasi pun bisa mendapatkan manfaatnya.

Pada dasarnya, virus atau bakteri tidak akan memiliki cukup ‘host‘ yang memenuhi syarat sebagai pijakan dan akhirnya, mati secara menyeluruh.

Fenomena inilah yang disebut sebagai herd immunity atau kekebalan komunitas. Ini memungkinkan penyakit yang dulunya mematikan dapat dihilangkan sepenuhnya tanpa perlu memvaksinasi setiap individu.

Siapa saja yang tidak dapat divaksinasi? Ini termasuk kelompok bayi, anak kecil, orang tua, orang dengan alergi parah, ibu hamil, atau orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Bila herd immunity tercapai, kelompok yang tidak divaksinasi tetap aman, karena tidak ada kesempatan untuk penyakit menyebar melalui suatu populasi.

Sudah ada satu contoh nyata dari negara Gambia yang menunjukkan bahwa tingkat vaksinasi hanya 70% dari populasi sudah cukup untuk menghilangkan penyakit Hib sepenuhnya [7].

Namun ingat, bukan berarti Anda mengabaikan vaksinasi. Jika terlalu banyak orang yang mengabaikannya, maka kekebalan kelompok dapat rusak dan semakin meningkatkan risiko populasi terserang wabah.

Original featured image by freepik – www.freepik.com