Categories
Aging Gaya Hidup Imunitas Kanker Kardiovaskuler Kelelahan

Ganoderma Coffee (Campuran Bubuk Reishi dan Kopi), Apa Manfaatnya?

Ganoderma coffee adalah minuman campuran antara bubuk jamur Reishi (Ganoderma lucidum) dan kopi. Beberapa produsen juga ada yang menambahkan bahan-bahan lainnya, seperti stevia, krimer non-susu, dan rempah-rempah (adas manis atau peppermint) yang semakin menambah manfaatnya.

Orang-orang juga sering menyebutnya sebagai kopi jamur Reishi atau Lingzhi. Kopi ini pun sudah dimanfaatkan sejak 2000 tahun silam dalam berbagai pengobatan terapeutik, misalnya untuk meningkatkan energi hingga mendukung fungsi organ dalam tubuh Anda.

Apa saja sih manfaat Ganoderma coffee ini sampai Anda harus mencobanya? Yuk, simak terus artikel berikut ini!

Manfaat Ganoderma coffee untuk kesehatan tubuh

ganoderma-coffee-manfaat-dan-efek-sampingnya-lingzhi-japan-bubuk-reishi

Para pendukung minuman bubuk ini mengklaim bahwa Ganoderma bermanfaat untuk [1]:

  • Meningkatkan kekebalan tubuh.
  • Membantu melawan kelelahan.
  • Meningkatkan daya ingat.
  • Meningkatkan stamina.
  • Menurunkan kolesterol.
  • Mengurangi peradangan.
  • Menghilangkan stres.
  • Melawan anti-aging.

Sayangnya, meskipun ada beberapa penelitian ilmiah yang mendukung manfaat kesehatan dari jamur Reishi, manfaat Ganoderma coffee sendiri belum pernah dipelajari secara khusus.

Adapun menurut penelitian:

  • Ganoderma lucidum dapat digunakan bersama pengobatan konvensional, karena membantu meningkatkan respons tumor dan merangsang kekebalan sel inang. Selain itu, juga dapat meningkatkan stamina (energi) dan mengurangi kelelahan [2, 3, 4].
  • Minum kopi dalam jumlah sedang dapat membantu mengurangi risiko penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit Parkinson, dan penyakit jantung [5, 6].

Berdasarkan penjelasan di atas, beberapa kemungkinan manfaat Ganoderma coffee yang dapat Anda peroleh di antaranya:

1. Meningkatkan kekebalan tubuh

Ramuan Ganoderma sudah terbukti khasiatnya sejak ribuan tahun yang lalu, terutama dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Jamur Reishi dapat meningkatkan kadar CD8 di dalam tubuh yang berperan penting dalam membunuh sel kanker [2]. Sementara kopi dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan dalam tubuh [6].

2. Mengurangi infeksi virus

Ganoderma coffee mengandung antioksidan yang sangat kuat, sehingga dapat menurunkan risiko terkena infeksi virus, seperti flu, herpes, flu babi, dan lainnya [4].

3. Mencegah kanker

Selain menjaga tubuh Anda tetap sehat, kandungan antioksidan di dalam kopi ini juga membantu melawan berbagai jenis kanker dan meningkatkan kesehatan jantung Anda [6].

Minum kopi ini juga telah terbukti mengurangi efek samping dari kemoterapi pada pasien kanker, yang pada gilirannya mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien [2].

4. Meningkatkan kesehatan jantung

Ada beberapa penelitian tentang bagaimana Ganoderma memengaruhi kesehatan jantung. Studi tersebut mengungkapkan bahwa jamur ini dapat meningkatkan kadar kolesterol-HDL (baik), serta menurunkan trigliserida [2].

Hal ini juga berkaitan dengan besarnya aktivitas antioksidan yang ditemukan dalam jamur dan kopi [6].

5. Mengurangi stres dan melawan depresi

Baik jamur Reishi dan kopi sama-sama dapat membantu mengurangi stres, melawan kecemasan, dan depresi. Tidak heran, jika Anda minum Ganoderma coffee, Anda akan merasakan hal yang sama, bahkan bisa lebih besar efeknya.

6. Meningkatkan tingkat energi

Ramuan Ganoderma juga dapat membantu proses detoksifikasi tubuh, yaitu menghilangkan racun dari tubuh dan meningkatkan suasana hati Anda.

Anda pun merasa jauh lebih segar setelah semua racun dikeluarkan dari tubuh Anda.

Amankah mengonsumsinya?

Karena kandungan kafeinnya yang rendah, Ganoderma coffee jarang menyebabkan insomnia. Bahkan, telah terbukti meningkatkan kualitas tidur dan menghilangkan kecemasan.

Kadar kafein dalam kopi ini diduga sekitar setengah dari kafein dalam secangkir kopi biasa.

Selain itu, kopi jamur Reishi memiliki rasa yang tidak terlalu asam daripada kopi biasa, sehingga cocok untuk Anda yang memiliki masalah pencernaan, seperti maag atau IBS [7].

Potensi efek samping Ganoderma coffee

Meski cenderung aman, Ganoderma mungkin dapat menimbulkan sejumlah efek samping pada beberapa orang, termasuk [2, 8]:

  • Mual.
  • Pusing.
  • Sakit perut.
  • Iritasi kulit.
  • Insomnia.

Inilah mengapa Anda perlu berkonsultasi dulu dengan dokter Anda sebelum mencoba kopi jamur Reishi. Terlebih jika Anda sedang menggunakan obat tekanan darah, antiplatelet, antikoagulan, atau menjalani kemoterapi.

Efek samping Ganoderma coffee juga mungkin berasal dari asupan kafein yang terlalu banyak, sehingga dapat mempercepat detak jantung, mengganggu tidur, menyebabkan masalah pencernaan, dan kecemasan [5].

Di sisi lain, Anda juga perlu teliti sebelum membeli produknya.

Karena suplemen herbal dan diet tidak diatur seperti obat resep, dalam beberapa kasus, produsen tidak mencantumkan bahan-bahan tambahan lain pada label kemasannya. Padahal, bahan tersebut bisa saja menimbulkan efek berbahaya untuk kesehatan Anda.

Jika Anda memilih untuk menggunakan suplemen, pastikan produknya dijamin oleh pihak ketiga yang menyediakan pengujian kualitas, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Adanya persetujuan dari pihak ketiga ini dapat menjamin bahwa produk diproduksi dengan cara yang benar, mengandung bahan yang sesuai dengan label kemasan, serta tidak mengandung tingkat kontaminan yang berbahaya.

Nah, setelah tahu banyak tentang Ganoderma coffee, tertarikkah Anda mencobanya?

Original featured image by azerbaijan_stockers – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Imunitas

10 Makanan yang Dapat Melemahkan Sistem Imun Tubuh, Batasi Konsumsinya!

Tahukah Anda? Selain makanan untuk meningkatkan kekebalan, ada pula jenis makanan yang dapat melemahkan sistem imun tubuh. Bahkan, makanan ini dapat memengaruhi perasaan Anda dan seberapa baik tubuh Anda menjalankan fungsinya.

Menurut studi, konsumsi makanan yang rendah zat gizi dan telah melalui proses pengolahan yang tinggi dapat olahan merusak fungsi kekebalan tubuh.

Melalui artikel ini, Anda akan tahu apa saja jenis makanan yang dapat melemahkan sistem kekebalan Anda.

10 Jenis makanan yang dapat melemahkan sistem imun tubuh

Berikut 10 jenis makanan yang dapat melemahkan sistem imun tubuh dan harus Anda batasi konsumsinya:

1. Gula tambahan.

Makanan yang mengandung gula tambahan dapat meningkatkan gula darah, serta produksi protein inflamasi, seperti TNF-α, CRP, dan IL-6. Ini semua dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh Anda.

Terlebih lagi bagi penderita diabetes yang dapat mengalami peningkatan kadar gula darah lebih cepat dan lama daripada orang yang non-diabetes.

Kadar gula darah tinggi juga dapat menghambat respons neutrofil dan fagosit. Keduanya adalah jenis sel kekebalan yang membantu melindungi tubuh Anda dari infeksi.

Tak hanya itu, gula darah tinggi juga dapat merusak fungsi penghalang usus dan mendorong ketidakseimbangan bakteri di usus Anda. Akibatnya, kondisi ini dapat mengubah respons kekebalan yang membuat tubuh Anda lebih rentan terhadap infeksi.

Oleh sebab itu, Anda perlu membatasi asupan makanan dan minuman yang mengandung tinggi gula tambahan, misalnya es krim, kue, permen, dan minuman manis, untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan kesehatan Anda secara keseluruhan.

2. Makanan asin.

Selain manis, makanan asin seperti keripik, frozen food, dan fast food dapat merusak respons kekebalan tubuh Anda.

Ini karena diet tinggi garam dapat menghambat fungsi kekebalan normal, menekan respons anti-inflamasi, mengganggu keseimbangan bakteri di usus, dan memicu penyakit autoimun.

Bahkan, studi menemukan bahwa makan terlalu banyak garam dapat memperburuk penyakit autoimun yang dialami seseorang, seperti lupus, kolitis ulserativa, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn.

Jadi, mengurangi asupan garam meja dan makanan tinggi garam dapat menjaga kesehatan dan fungsi kekebalan tubuh Anda.

3. Makanan tinggi lemak omega-6.

Pada dasarnya, tubuh memerlukan lemak omega-6 dan omega-3 untuk menjalankan fungsinya dengan baik.

Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak omega-6 dapat melemahkan sistem imun tubuh Anda.

Radzikowska et al. (2019) menemukan bahwa diet tinggi lemak omega-6 dapat meningkatkan aktivitas protein pro-inflamasi yang dapat melemahkan respons imun.

Sementara itu, diet tinggi lemak omega-3 dapat mengurangi produksi protein tersebut dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh Anda.

Hanya saja, para ahli masih memerlukan lebih banyak penelitian pada manusia terkait hubungan antara lemak omega-6 dan respons imun.

Terlepas dari itu, para peneliti merekomendasikan agar Anda menjaga keseimbangan asupan lemak omega-6 dan omega-3 untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Cobalah untuk mengonsumsi lebih banyak makanan kaya omega-3, seperti salmon, mackerel, sarden, kenari, dan biji chia, serta membatasi makanan tinggi omega-6, seperti minyak jagung, minyak kanola, dan minyak kedelai.

4. Makanan yang digoreng.

Setiap orang hampir tidak pernah tidak mengonsumsi makanan yang digoreng. Faktanya, makanan yang digoreng tinggi kandungan AGEs, yaitu produk akhir glikasi lanjutan (AGEs).

AGEs terbentuk ketika gula dalam makanan bereaksi dengan protein atau lemak selama dimasak pada suhu tinggi, seperti menggoreng. Jika kadarnya terlalu tinggi di dalam tubuh, dapat berkontribusi pada peradangan dan kerusakan sel.

Molekul ini dianggap melemahkan sistem imun tubuh dalam beberapa cara, termasuk dengan meningkatkan peradangan, menguras mekanisme antioksidan tubuh, memicu gangguan seluler, dan mengganggu keseimbangan bakteri usus.

Maka dari itu, Anda perlu mengurangi makanan yang digoreng, seperti keripik kentang, kentang goreng, ayam goreng, daging (steak) goreng, dan ikan goreng.

5. Daging olahan.

Seperti makanan yang digoreng, daging olahan juga mengandung AGEs yang tinggi. Contohnya bacon goreng, hot dog panggang, paha ayam dengan kulit panggang, dan steak panggang.

Daging olahan juga tinggi lemak jenuh yang dapat menyebabkan peradangan sistemik dan membahayakan fungsi kekebalan tubuh Anda.

Bahkan, studi menemukan bahwa asupan tinggi daging olahan telah dikaitkan dengan berbagai penyakit, termasuk kanker usus besar.

6. Makanan cepat saji.

Kebiasaan mengonsumsi fast food dan makanan olahan dapat memicu peradangan, meningkatkan permeabilitas usus, dan menyebabkan ketidakseimbangan bakteri di usus, yang semuanya dapat berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh.

Makanan cepat saji mengandung bahan kimia bis(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DiNP) – yang merupakan dua jenis phthalates.

Phthalates adalah senyawa racun yang dapat larut ke dalam makanan cepat saji melalui kemasan atau sarung tangan plastik yang digunakan saat menyiapkan makanan.

Senyawa ini diketahui dapat meningkatkan resistensi insulin dan produksi protein inflamasi yang dapat menyebabkan disregulasi kekebalan.

Selain itu, phthalates dapat mengurangi keragaman bakteri usus, yang berdampak buruk untuk sistem kekebalan tubuh.

Jadi, jagalah agar asupan makanan cepat saji Anda seminimal mungkin.

7. Makanan yang mengandung zat aditif.

Sebagian besar makanan, terutama makanan ultra-olahan, mengandung aditif untuk meningkatkan tekstur, rasa, dan masa simpannya.

Sayangnya, beberapa dapat berdampak buruk pada kekebalan tubuh Anda.

Misalnya, beberapa pengemulsi, seperti Carboxymethylcellulose (CMC) dan polysorbate-80 (P80), yang digunakan untuk meningkatkan tekstur dan umur simpan makanan olahan, dapat mengubah bakteri usus, merusak lapisan usus, dan menyebabkan peradangan.

Selain itu, karagenan yang umum digunakan dapat menyebabkan peradangan usus dan menghambat respons imun.

Beberapa kelompok makanan yang mengandung aditif lainnya adalah sirup jagung, garam, pemanis buatan, dan sitrat, juga dapat melemahkan sistem imun tubuh Anda.

8. Karbohidrat sederhana.

Mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat sederhana, seperti roti putih dan makanan manis yang dipanggang, terlalu sering dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh Anda.

Ini karena indeks glikemiknya yang tinggi, sehingga menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan insulin, yang berpotensi meningkatkan produksi radikal bebas dan protein inflamasi, seperti CRP.

Ditambah lagi diet kaya karbohidrat olahan dapat mengubah keseimbangan bakteri usus, yang dapat melemahkan sistem imun tubuh Anda.

Jadi, cobalah untuk mengonsumsi sumber karbohidrat berserat tinggi, seperti sayuran bertepung, gandum, buah, dan kacang-kacangan, daripada karbohidrat olahan untuk mendukung imunitas tubuh.

9. Makanan tinggi lemak jenuh.

Diet tinggi lemak jenuh dan rendah lemak tak jenuh dapat menyebabkan disfungsi kekebalan tubuh.

Ini karena asupan lemak jenuh yang tinggi dapat mengaktifkan jalur sinyal tertentu yang menyebabkan peradangan, sehingga menghambat fungsi kekebalan tubuh.

Selain itu, dapat menekan sistem kekebalan dan fungsi sel darah putih yang membuat Anda rentan terhadap penyakit. Bahkan, makanan tinggi lemak jenuh juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri di usus.

Oleh sebab itu, para ahli menyarankan agar Anda mengonsumsi makanan seimbang yang tinggi serat dan sumber lemak sehat untuk mendukung kesehatan kekebalan tubuh.

10. Makanan dan minuman dengan pemanis buatan.

Saat ini, sudah semakin banyak studi yang membuktikan bahwa kebiasaan konsumsi makanan dengan pemanis buatan, termasuk sukralosa dan sakarin, dapat menyebabkan ketidakseimbangan bakteri usus dan melemahkan sistem imun tubuh.

Selain itu, beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa asupan pemanis buatan yang tinggi dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit autoimun. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Meski demikian, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa asupan pemanis buatan harian dalam jumlah moderat tidak menyebabkan perubahan pada bakteri usus ataupun melemahkan sistem imun tubuh.

Kesimpulan

Dengan membatasi asupan makanan dan minuman di atas, Anda dapat memelihara fungsi kekebalan dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Original featured image by master1305 – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Imunitas

Imun Tubuh Melemah? Atasi dengan 6 Langkah Ini!

Imun tubuh yang kuat sangat diperlukan untuk melawan berbagai patogen penyebab penyakit, termasuk COVID-19. Oleh karena itu, setiap komponennya harus bekerja sesuai dengan fungsinya. Cara terbaik untuk memastikan imun tubuh bekerja secara optimal adalah dengan menerapkan pola hidup sehat setiap hari. Berikut adalah 6 kuncinya.

6 Langkah meningkatkan imun tubuh yang lemah

1. Menjaga pola makan sehat

pola-makan-sehat-lingzhi-japan-1
Sumber gambar: freepik

Kunci utama tubuh tetap sehat adalah memenuhi kebutuhan zat gizi dengan baik. Tentunya, hal ini bisa terwujud dengan Anda mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang.

Jika Anda merasa tubuh sering sakit, tidak fit dan bugar seperti biasanya, mungkin saja asupan makanan Anda ada yang salah. Segeralah perbaiki pola makan Anda dengan mengonsumsi banyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, protein tanpa lemak, dan lemak sehat [1, 2].

Selain memberikan energi untuk sel-sel tubuh, termasuk sel imun, diet sehat juga membantu memastikan Anda mendapatkan mikronutrien yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh, termasuk vitamin B6, C, D, E, zing, seng, dan masih banyak lagi.

Jadi, cara terbaik untuk mengembalikan imun tubuh yang lemah dan menjaga Anda tetap fit adalah dengan makan makanan sehat dan bergizi seimbang.

2. Berolahraga secara teratur

6-langkah-meningkatkan-imun-tubuh-yang-lemah-lingzhi-japan-2
Sumber gambar: pressfoto

Melakukan aktivitas fisik tidak hanya untuk membangun otot dan membantu menghilangkan stres, lebih dari itu, ini adalah bagian penting untuk mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Salah satu alasan mengapa olahraga dapat meningkatkan fungsi imun adalah dengan meningkatkan sirkulasi Anda secara keseluruhan, membuat sel-sel tubuh Anda lebih mudah bergerak ke seluruh tubuh.

Penelitian juga telah menunjukkan bahwa berolahraga ringan hingga berat selama 30 menit setiap hari dapat membantu mengaktifkan sistem kekebalan tubuh Anda [4].

Jadi, berolahraga secara teratur berperan penting agar Anda tetap sehat, fit, dan bugar sepanjang hari.

3. Menjaga hidrasi tubuh

minum-air-putih-lingzhi-japan-3
Sumber gambar: freepik

Ada banyak peran penting air di dalam tubuh Anda, termasuk mendukung sistem kekebalan tubuh.

Cairan dalam sistem peredaran darah yang disebut getah bening, membawa sel-sel kekebalan penangkal infeksi yang penting ke seluruh tubuh Anda.

Jika Anda mengalami dehidrasi, tentunya akan memperlambat pergerakan getah bening, bahkan menyebabkan sistem kekebalan tubuh terganggu.

Oleh sebab itu, minumlah air yang cukup setiap hari untuk menjaga dan meningkatkan imun tubuh Anda [5].

4. Tidur yang cukup

6-langkah-meningkatkan-imun-tubuh-yang-lemah-lingzhi-japan-4
Sumber gambar: senivpetro

Tidur tidak hanya sekadar melepaskan rasa kantuk dan lelah setelah seharian beraktivitas. Faktanya, ada banyak aktivitas penting yang terjadi di tubuh saat Anda tidur dengan nyenyak.

Salah satu aktivitas penting yang terjadi saat Anda tidur adalah membangun molekul penangkal infeksi.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak mendapatkan tidur yang cukup, rentan mengalami sakit setelah terpapar virus [6].

Oleh sebab itu, penting bagi Anda mendapatkan tidur yang cukup setiap hari, serta mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas tidur Anda. Misalnya, tidak menonton TV menjelang Anda ingin terlelap [7].

5. Kelola stres

mengelola-stres-lingzhi-japan-5
Sumber gambar: diana.grytsku

Stres memang tidak dapat dihindari, entah itu dari pekerjaan, masalah pribadi, hubungan dengan kerabat, atau lainnya. Namun, stres bisa dikelola dengan baik, agar tidak berdampak buruk pada kesehatan, termasuk terhadap sistem imunitas tubuh.

Selama periode stres, terutama stres kronis yang sering terjadi dan berlangsung lama, tubuh Anda akan meresponsnya dengan respons stres. Hal ini dapat menekan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan risiko infeksi atau penyakit [8].

Karena bisa berefek buruk pada kesehatan, penting bagi Anda mengetahui cara mengidentifikasi stres.

Anda bisa melakukan teknik pernapasan dalam, meditasi, berolahraga, dan melakukan berbagai kegiatan yang Anda senangi untuk membantu mengurangi stres.

6. Konsumsi suplemen dengan bijak

Setelah Anda menerapkan 5 langkah sehat di atas, Anda bisa membantu memperkuat daya tahan tubuh Anda dengan mengonsumsi suplemen kesehatan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplemen berikut dapat memperkuat respons kekebalan tubuh Anda secara umum, di antaranya:

  • Elderberry: dapat mengurangi gejala infeksi saluran pernapasan atas [9].
  • Echinacea: membantu meredakan pilek [10].
  • Bawang putih: membantu mengurangi flu biasa [11].
  • Jamur obat, seperti Reishi, dapat menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh Anda. Studi membuktikan efeknya ini pada penderita kanker yang mengalami peningkatan imun tubuh dan kualitas hidup setelah mengonsumsi ekstrak jamur Reishi bersama dengan kemoterapi [12].

Inilah 6 langkah sehat yang perlu Anda lakukan untuk menjaga dan meningkatkan imun tubuh. Jika Anda merasakan gejala penyakit yang tidak biasa, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Original featured image by cookie_studio – www.freepik.com

Categories
Imunitas Kanker Kelelahan

Waspada Badai Sitokin! Apakah Ini?

Patogenesis virus corona baru (SARS-CoV-2) dan penyakit COVID-19 yang diakibatkannya sangatlah bervariasi. Ini karena beberapa individu yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala, sedangkan yang lain bisa sangat menderita. Badai sitokin tampaknya memainkan peran langsung dalam menentukan tingkat keparahan COVID-19.

Apa sebenarnya badai sitokin? Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Berikut ulasannya!

Apa itu badai sitokin?

Badai sitokin adalah suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh memproduksi sejumlah besar sitokin yang dilepaskan ke dalam aliran darah dalam waktu singkat, sehingga menciptakan respons peradangan yang tidak terkendali (berlebihan) [1, 2].

Istilah badai sitokin atau hipersitokinemia, muncul pertama dalam artikel tahun 1993 yang membahas penyakit graft-versus-host. Namun, sejak tahun 2000, istilah ini telah dirujuk dalam berbagai penyakit menular [3].

Maka dari itu, hipersitokinemia paling sering digunakan untuk menggambarkan respons inflamasi yang tidak terkendali oleh sistem kekebalan tubuh.

Sitokin sendiri merupakan glikoprotein kecil yang diproduksi oleh berbagai jenis sel di seluruh tubuh. Begitu dilepaskan, sitokin dapat meningkatkan berbagai fungsi tubuh.

Beberapa di antaranya melibatkan kontrol proliferasi dan diferensiasi sel, autokrin, parakrin dan/atau aktivitas endokrin, serta mengatur respons imun dan peradangan dalam tubuh [4].

Peradangan adalah respons normal saat tubuh terinfeksi oleh virus atau bakteri. Selama proses ini, badai sitokin pun juga dapat terjadi di mana berbagai sitokin inflamasi diproduksi pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Sayangnya, produksi sitokin yang berlebihan justru dapat menyebabkan umpan balik positif pada sel imun. Hal ini memungkinkan lebih banyak sel imun yang direkrut ke bagian tubuh yang cedera, hingga menyebabkan kerusakan organ.

Salah satu kondisi klinis yang paling menonjol terkait dengan hipersitokinemia adalah sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), yang telah menyebabkan sejumlah besar kematian akibat SARS-CoV-2.

Gejala

Tanda dan gejala badai sitokin, meliputi [1, 2, 5]:

  • Demam tinggi.
  • Kulit kemerahan.
  • Pembengkakan ekstremitas.
  • Kelelahan.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit otot dan sendi.
  • Sakit kepala.
  • Ruam.
  • Batuk.
  • Sesak napas.
  • Kejang.
  • Sulit mengkoordinasikan gerakan.
  • Mengalami kebingungan dan halusinasi.
  • Kelesuan dan respons yang buruk.

Pembuluh darah adalah organ paling penting yang menahan serangan, di mana badai sitokin membuat dinding pembuluh darah Anda lebih mudah ditembus.

Akibatnya, pembuluh darah arteri, vena, dan kapiler semuanya mulai mengeluarkan darah dan plasma.

Hipersitokinemia juga dapat memicu pelepasan oksida nitrat dalam jumlah besar yang dapat mengencerkan darah dan menghancurkan pembuluh darah.

Pada akhirnya, kondisi tersebut menurunkan tekanan darah hingga ke tingkat yang berbahaya, sehingga penderita hipersitokinemia tidak mati karena kehilangan darah, tetapi karena mengalami syok septik yang parah [6].

Tingkat keparahan gejala bisa bervariasi pada setiap orang yang mengalaminya. Dalam kasus yang parah, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan organ dan mengancam jiwa [1, 2, 5].

Penyebab badai sitokin

Para ilmuwan hingga saat ini masih terus berupaya untuk memahami jaringan kompleks penyebab badai sitokin dimulai. Namun, beberapa masalah kesehatan berikut diduga dapat mendasarinya terjadi [5].

1. Sindrom genetik

Orang dengan sindrom genetik tertentu cenderung mengalami badai sitokin. Misalnya, penyakit familial hemophagocytic lymphohistiocytosis, yang menyebabkan masalah spesifik pada sel imun tertentu.

Masalah genetik dalam kelompok ini cenderung mengembangkan hipersitokinemia sebagai respons tubuh terhadap infeksi yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan pertama kehidupan.

2. Infeksi

Jenis infeksi tertentu juga dapat memicu hipersitokinemia, termasuk oleh virus, bakteri, dan agen lainnya. Salah satu jenis yang paling umum adalah badai sitokin dari virus influenza A (penyebab flu biasa).

Meskipun kebanyakan orang tidak mengalami hipersitokinemia, jenis infeksi tertentu lebih mungkin menyebabkannya daripada yang lain.

Sementara itu, virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 tampaknya lebih rentan menyebabkan badai sitokin dibandingkan dengan penyakit yang disebabkan oleh beberapa virus lain. Namun, alasannya masih belum jelas sepenuhnya.

3. Penyakit autoimun

Orang dengan sindrom autoimun berisiko lebih tinggi terkena sindrom badai sitokin, misalnya penyakit arthritis idiopatik remaja sistemik (JIA) dan lupus. Dalam konteks ini, badai sitokin sering disebut dengan sindrom aktivasi makrofag.

Jenis hipersitokinemia ini mungkin terjadi ketika penyakit yang mendasari seseorang sedang bergejolak, atau saat orang tersebut juga mengalami beberapa jenis infeksi lainnya.

4. Penyebab lainnya

Hipersitokinemia juga terkadang merupakan efek samping dari terapi medis tertentu, seperti terapi leukemia (CAR-T) atau jenis imunoterapi lainnya.

Terjangan hipersitokinemia juga dapat terjadi dalam situasi medis lainnya, seperti setelah menerima transplantasi organ atau sel induk.

Jenis kanker tertentu juga dapat menyebabkan sindrom badai sitokin, seperti AIDS dan sepsis.

Badan sitokin dan COVID-19

diagram-badai-sitokin-pada-covid-19-lingzhi-japan
Sumber gambar: Frontiers

Sebagian besar kasus COVID-19 tidak mengembangkan hipersitokinemia. Namun, baru-baru ini, ada dugaan bahwa perkembangan infeksi SARS-CoV-2 berkaitan dengan hipersitokinemia, di mana tingkat badai sitokin yang lebih tinggi menunjukkan perkembangan penyakit yang lebih parah.

Para ahli menduga kondisi ini disebabkan oleh [7]:

  • Respons imun disfungsional pada beberapa pasien. Respon imun yang tidak terkendali terhadap patogen dapat menyebabkan imunopatogenesis yang dapat berakibat fatal, menyebabkan peradangan yang berlebihan, bahkan kematian.
  • Respons interferon (IFN) disregulasi. Akibatnya, gagal untuk membersihkan patogen secara efektif dan replikasi virus persisten yang menyebabkan respons inflamasi memburuk dan peningkatan produksi sitokin.
  • Faktor lain seperti piroptosis, yaitu bentuk inflamasi dari kematian sel terprogram yang dipicu oleh peningkatan angiotensin II setelah gangguan sistem renin-angiotensin.

Pengobatan

Sejumlah besar terapi anti-inflamasi masih terus diteliti untuk mengobati hipersitokinemia pada COVID-19. Sejauh ini, para peneliti merekomendasikan agar imunoterapi diberikan pada saat diagnosis hipersitokinemia.

Hal ini bertujuan mengurangi efek merusak yang dapat ditimbulkan hipersitokinemia pada individu yang positif COVID-19.

Beberapa strategi imunoterapi penting yang telah diusulkan, termasuk antibodi penawar (dapat diperoleh dari plasma pasien yang sebelumnya selamat dari infeksi COVID-19), penghambat IFN, penghambat fosfolipid teroksidasi (OxPL), dan sphingosine-1-phosphate receptors 1 (S1P1) antagonists [4].

Studi klinis lebih lanjut masih harus dilakukan untuk mengevaluasi pilihan pengobatan tersebut sepenuhnya, sehingga berhasil menghambat badai sitokin yang disebabkan oleh COVID-19.

Original featured image by prostooleh – www.freepik.com

Categories
Aging Imunitas Kanker Kardiovaskuler Kelelahan Lemak Berlebih

6 Jamur Obat yang Bertindak Sebagai Imunomodulator

Jamur obat telah digunakan dalam pengobatan Timur selama ribuan tahun dan semakin populer akhir-akhir ini. Salah satu manfaat utamanya adalah sebagai imunomodulator atau merangsang sistem imunitas tubuh.

Jenis jamur ini hampir tidak pernah dimakan mentah atau utuh, tetapi sering kali dikonsumsi sebagai bubuk atau tablet. Anda juga bisa menambahkannya ke dalam menu makanan apa pun, misalnya smoothie atau tumis sayuran.

Banyak manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh jamur obat dengan keunikannya masing-masing. Namun ingat, ini bukanlah obat. Anda bisa menjadikannya lebih seperti sahabat karib untuk sistem kekebalan tubuh Anda atau vaksin mini untuk melawan stres, peradangan, dan kanker.

6 Jamur obat yang bertindak sebagai imunomodulator

1. Reishi

6-jamur-obat-yang-bertindak-sebagai-imunomodulator-lingzhi-japan-reishi
Gambar oleh Katalin Molnár dari Pixabay

Jamur yang disukai ini adalah salah satu jamur obat yang paling populer, karena hampir semuanya bisa dilakukan. Mulai dari membantu penurunan berat badan, menjaga sistem kekebalan tubuh, hingga membantu melawan sel kanker yang ganas [1, 2, 3].

Para ahli sepakat bahwa jamur Reishi unik karena sifat menenangkannya yang berasal dari senyawa triterpen. Senyawa peningkat suasana hati ini mampu mengurangi kecemasan, meredakan stres, dan mendorong tidur yang lebih baik [4, 5].

Efek positif triterpen pada sistem saraf tidak berhenti di sini saja. Reishi juga dapat mempromosikan penyembuhan dan mempertajam fokus Anda [6].

Tips:

Tambahkan sesendok bubuk Reishi ke dalam secangkir teh panas atau tambahkan ke makanan penutup favorit Anda.

2. Surai singa

lingzhi-japan-surai-singa
Gambar oleh simonproulx dari Pixabay

Jamur “pom-pom” berbulu ini dikemas dengan aktivitas antioksidan yang tinggi, sehingga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh Anda seperti kebanyakan jamur obat lainnya.

Tak hanya itu, surai singa dapat membantu menjernihkan mental secara alami.

Ini karena ia dapat mendorong produksi faktor pertumbuhan saraf bioprotein (NFG) dan mielin. Keduanya sangat penting untuk kesehatan otak. Jika tidak seimbang, maka dapat berkontribusi pada penyakit neurologis, seperti Alzheimer dan multiple sclerosis [7, 8].

Maka dari itu, surai singa menjadi makanan otak yang dapat diandalkan.

Jamur ajaib ini juga telah terbukti meningkatkan kognisi dalam beberapa penelitian kecil pada manusia dan hewan percobaan (tikus), meningkatkan konsentrasi, serta mengurangi kecemasan dan cepat marah [9, 10, 11].

Tips:

Tambahkan sesendok bubuk surai singa yang kaya antioksidan ini ke dalam cangkir minuman Anda untuk mendapatkan energi dan kejernihan pikiran, serta meningkatkan daya tahan tubuh.

3. Chaga

6-jamur-obat-yang-bertindak-sebagai-imunomodulator-lingzhi-japan-chaga
Gambar oleh DEZALB dari Pixabay

Jamur chaga adalah pembangkit energi tubuh yang kaya antioksidan, sehingga menjadikannya pesaing yang sangat baik untuk memerangi radikal bebas dan peradangan.

Jamur hitam gelap ini mampu memerangi stres oksidatif (yang terkait dengan penuaan dini), mencegah atau memperlambat pertumbuhan kanker, dan membantu menurunkan kolesterol-LDL [12, 13].

Sebagian besar penelitian tentang jamur chaga dilakukan pada sel manusia dan tikus percobaan, serta menunjukkan bahwa jamur ini baik untuk dikonsumsi.

Tips:

Tambahkan bubuk jamur chaga ke dalam smoothie pagi Anda atau buat minuman chaga latte hangat.

4. Shiitake

lingzhi-japan-shiitake
Gambar oleh Hans Braxmeier dari Pixabay

Mungkin Anda sudah tidak asing lagi memasak dengan shiitake di dapur. Namun, tahukah Anda bahwa jamur obat populer ini memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat tumisan Anda menjadi lebih nikmat?

Yaps, jamur ini sangat baik untuk kesehatan jantung. Shiitake telah terbukti dapat menurunkan kolesterol-LDL pada tikus dan mengandung senyawa yang mampu menghambat penyerapan dan produksi kolesterol di hati [14].

Selain itu, shiitake mengandung fitonutrien yang dapat membantu mencegah penumpukan plak dan menjaga tekanan darah dan sirkulasi Anda tetap sehat [15].

Tips:

Tambahkan sesendok bubuk shiitake ke dalam masakan Anda untuk meningkatkan rasa umami makanan tersebut.

5. Ekor kalkun

6-jamur-obat-yang-bertindak-sebagai-imunomodulator-lingzhi-japan-ekor-kalkun
Gambar oleh Rebecca L dari Pixabay

Sebagian besar jamur obat memang menunjukkan sifat antikanker, karena jumlah antioksidannya yang sangat tinggi. Namun, lain halnya dengan ekor kalkun.

Jamur ekor kalkun mengandung senyawa yang disebut polisakarida-K (PSK) yang bertindak sebagai imunomodulator – merangsang sistem kekebalan tubuh [16].

PSK sangat efektif, bahkan diresepkan sebagai obat antikanker yang disetujui di Jepang [17].

Ekor kalkun telah terbukti meningkatkan tingkat kelangsungan hidup penderita kanker tertentu, melawan sel leukemia, dan meningkatkan sistem kekebalan pada orang yang menjalani kemoterapi [18, 19, 20].

Dengan catatan, Anda tidak menghentikan pengobatan kanker yang sudah diresepkan tanpa berkonsultasi dengan dokter Anda.

Tips:

Tambahkan sesendok bubuk ekor kalkun ke dalam smoothie sebagai penambah kekebalan tubuh Anda.

6. Cordyceps

lingzhi-japan-cordyceps
Gambar oleh Tú Nguyễn Thanh dari Pixabay

Sering merasa kurang energi atau butuh dorongan sebelum latihan? Cordyceps mungkin bisa menjadi solusi efektif untuk Anda. Jamur ini dikenal sangat merangsang, baik untuk energi maupun libido (gairah seksual).

Jamur cordyceps dapat membantu tubuh Anda memanfaatkan oksigen dengan lebih efisien dan meningkatkan aliran darah Anda. Hal ini tentunya sangat membantu para atlet atau Anda yang rutin berolahraga [21].

Tidak hanya meningkatkan kinerja atletik, jamur ini juga terbukti mempercepat pemulihan otot pasca-latihan [22, 23].

Tips:

Tambahkan sesendok bubuk cordyceps ke dalam makanan favorit Anda sebelum atau sesudah latihan untuk meningkatkan energi atau pemulihan setelah berolahraga.

Kesimpulan

Menambahkan sesendok bubuk jamur obat ke resep favorit Anda adalah cara yang bagus untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang luar biasa.

Pastikan Anda berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum mengonsumsinya untuk memastikan apakah menambahkan jamur obat ke dalam makanan Anda aman, terutama jika Anda memiliki alergi, sedang hamil, atau menggunakan obat tertentu.

Nah, dari semua jamur obat yang luar biasa di atas, manakah yang paling ingin Anda coba terlebih dahulu?

Original featured image by Bluebird Provisions from Pixabay

Categories
Gaya Hidup Imunitas

6 Latihan Yoga untuk Menangkal COVID-19

Sejak COVID-19 berubah menjadi wabah pandemi, kesehatan telah menjadi prioritas utama bagi masyarakat di seluruh dunia. Latihan yoga adalah salah satu metode terbaik untuk mempromosikan kesehatan dan membangun ketahanan tubuh Anda terhadap penyakit.

Latihan yoga setiap hari dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan mental, menjaga fisik tetap bugar, dan mempertahankan tingkat energi dengan baik.

Lalu, apa saja sih latihan yoga yang bisa membantu menangkal COVID-19? Ini dia!

6 Latihan yoga untuk menangkal COVID-19

Berikut beberapa latihan yoga yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh Anda terhadap COVID-19 [1, 2, 3]:

1. Bhujangasana (pose ular kobra)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi berbaring tengkurap dengan jari-jari kaki rata di lantai dan dahi bertumpu di lantai. Jaga agar kaki Anda tetap rapat.
  • Letakkan tangan di bawah bahu. Jaga agar siku sejajar dan dekat dengan tubuh Anda.
  • Tarik napas dalam-dalam, angkat kepala, dada, dan perut secara perlahan sambil tetap menjaga pusar Anda di atas lantai.
  • Kemudian, tarik tubuh Anda ke belakang dan dari lantai dengan dukungan tangan Anda.
  • Tetap bernapas dengan kesadaran penuh dan luruskan lengan Anda dengan melengkungkan punggung sebanyak mungkin.
  • Buang napas sambil membawa perut, dada, dan kepala Anda kembali ke lantai dengan lembut.

2. Matsyasana (pose ikan)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi berbaring telentang, lalu luruskan kaki ke depan dan rilekskan tangan di sisi tubuh.
  • Letakkan tangan di bawah pinggul dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Dekatkan siku ke sisi tubuh Anda.
  • Kemudian, tarik napas sambil mengangkat kepala dan dada ke atas. Jaga agar dada tetap tinggi, lalu turunkan kepala Anda ke belakang secara perlahan hingga menyentuh lantai.
  • Dengan posisi kepala sedikit menyentuh lantai, tekan siku Anda dengan kuat ke tanah. Tahan beban di siku, bukan di kepala.
  • Angkat dada Anda di antara tulang belikat. Tekan paha dan kaki ke lantai.
  • Tetap rileks dengan pose ini dalam setiap pernapasan.
  • Angkat kepala Anda ke atas, turunkan dada dan kepala ke lantai secara lembut.

3. Balasana (pose anak)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi duduk di atas tumit Anda. Pertahankan pinggul di atas tumit, lalu tekuk tubuh ke depan dan turunkan dahi Anda hingga menyentuh lantai
  • Jaga agar lengan tetap di samping tubuh dengan tangan di atas lantai dan telapak tangan menghadap ke atas.
  • Tekan dada Anda dengan lembut di paha dan tahan.
  • Setelah itu, kembali ke posisi duduk di atas tumit secara perlahan.

4. Setu Bandhasana (pose jembatan)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi berbaring telentang.
  • Tekuk lutut membentuk sudut siku-siku dan angkat pinggul Anda dari lantai.
  • Jaga agar lengan tetap di samping tubuh dengan telapak tangan menghadap ke bawah.
  • Tarik napas sambil mengangkat punggung bawah, punggung tengah, dan punggung atas Anda dari lantai; menyentuh dada ke dagu tanpa menurunkan dagu; dan menopang berat badan dengan bahu, lengan, dan kaki Anda.
  • Tahan pose ini selama 1-2 menit dan buang napas saat Anda melepaskan pose secara lembut.

5. Dhanurasana (pose busur)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi berbaring tengkurap dengan kaki terbuka selebar pinggul dan lengan di samping tubuh Anda.
  • Lipat lutut dan pegang pergelangan kaki Anda.
  • Tarik napas perlahan sambil mengangkat dada Anda dari tanah dan menarik kaki Anda ke atas.
  • Pertahankan pose tetap stabil sambil memperhatikan napas Anda.
  • Ambil napas panjang dalam-dalam saat Anda bersantai dalam pose ini.
  • Setelah 15-20 detik, keluarkan napas dan lepaskan pose dengan lembut.

6. Halasana (pose bajak)

Cara melakukannya:

  • Ambil posisi berbaring telentang dengan tangan di samping dan telapak tangan ke bawah.
  • Tarik napas, lalu angkat kaki Anda dari lantai dengan menggunakan otot perut. Pastikan Anda mengangkat kaki secara vertikal dalam sudut 90 derajat dan tetap bernapas dengan normal.
  • Topang pinggul dan punggung Anda dengan tangan dan angkat dari lantai.
  • Sapukan kaki Anda dalam sudut 180 derajat di atas kepala Anda sampai jari-jari kaki menyentuh lantai. Bagian belakang harus tegak lurus dengan lantai.
  • Tahan pose ini selama 1 menit sambil merasa rileks.

Mengapa latihan yoga bisa meningkatkan imunitas tubuh?

Menurut Nagendra (2020), semua latihan yoga dapat menguatkan sistem imunitas tubuh Anda, karena menerapkan relaksasi yang mendalam.

Relaksasi mendalam ini dapat melepaskan semua ketegangan dan tekanan yang Anda alami, sehingga mencegah penekanan kekebalan tubuh (suppressed immune system) yang dapat melemahkan respons imun terhadap patogen [4, 5].

Begitu pula yang disampaikan oleh Gautam dan Dada (2021) bahwa yoga dapat membantu meningkatkan kekebalan dan mencegah badai sitokin inflamasi yang berlebihan, sehingga mengurangi keparahan penyakit.

Selain itu, latihan yoga dapat mengurangi stres, kecemasan, dan depresi komorbiditas dengan mempromosikan neuroplastisitas dan mencegah aktivasi secara terus-menerus dari hipotalamus hipofisis adrenal. Anda pun jauh lebih bugar secara fisik dan lebih tangguh secara emosional [6].

Nah, dari berbagai pose yoga di atas, manakah yang menjadi favorit Anda?

Original featured image by senivpetro – www.freepik.com

Categories
Aging Gaya Hidup Imunitas Kanker Kardiovaskuler

5 Manfaat Berjemur di bawah Sinar Matahari dan Waktu Terbaiknya

Berjemur di bawah sinar matahari dapat memberikan dampak besar untuk kesehatan Anda. Namun ingat, Anda perlu memerhatikan kapan waktu berjemur yang disarankan oleh para ahli. Alih-alih menyehatkan, berjemur di waktu yang salah justru berdampak buruk untuk kesehatan, terutama kulit Anda.

Nah, berikut ini 5 manfaat berjemur di bawah sinar matahari dan waktu yang paling ideal untuk melakukannya!

5 Manfaat berjemur di bawah sinar matahari

Manfaat paling utama dari berjemur di bawah sinar matahari adalah membantu tubuh membuat vitamin D secara alami.

“Vitamin D dalam tubuh perlu diaktifkan. Sinar matahari dapat membantu mengubah kadar Vitamin D yang tidak aktif tersebut menjadi aktif,” jelas Dr. Roizen, seorang Chief Wellness Officer di Klinik Cleveland, Ohio [1].

Vitamin larut lemak ini sangat penting untuk tubuh, tetapi sering kali orang-orang tidak cukup mendapatkannya dari makanan.

Terlebih lagi, vitamin D juga telah menjadi salah satu zat gizi yang difokuskan asupannya bagi penderita COVID-19 [2].

Oleh sebab itu, manfaat berjemur di bawah sinar matahari juga melibatkan peranan vitamin D di dalam tubuh, di antaranya:

1. Meningkatkan suasana hati

Menurut para ilmuwan di Brigham Young University (BYU), sinar matahari dapat berdampak besar untuk kesehatan mental dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan [3].

Hal ini karena sinar matahari dapat meningkatkan hormon serotonin, yang dapat meningkatkan suasana hati dan perasaan tenang.

Selain itu, mendapatkan sinar matahari juga membantu mencegah Seasonal Affective Disorder (SAD). Ini adalah jenis depresi yang dipengaruhi oleh perubahan musim yang lebih sedikit paparan sinar mataharinya, seperti musim dingin [1].

Sekalipun Anda tidak depresi, berjemur di bawah sinar matahari dapat meningkatkan mood Anda.

2. Memperbaiki kualitas tidur

Tubuh Anda menciptakan hormon melatonin yang sangat penting untuk membantu tidur cepat dan nyenyak di malam hari.

Karena tubuh Anda mulai memproduksi hormon ini ketika hari sudah gelap, Anda pun biasanya mulai merasa mengantuk dua jam setelah matahari terbenam.

Dengan berjemur di bawah sinar matahari, akan membantu Anda mendapatkan tidur yang lebih nyenyak di malam hari [4].

Ini karena sinar matahari dapat mengatur ritme sirkadian Anda dengan memberi tahu tubuh Anda kapan harus meningkatkan dan menurunkan kadar melatonin Anda [5].

Jadi, ketika Anda terpapar oleh sinar matahari, produksi melatonin pun dapat terjadi lebih cepat, sehingga membuat Anda lebih mudah tidur di malam hari.

Tentunya, ini sangat bagus untuk membantu mengatasi insomnia.

3. Membuat tulang lebih kuat

Salah satu manfaat penting vitamin D di dalam tubuh adalah membuat tulang dan gigi Anda jadi lebih kuat.

Vitamin D membantu proses penyerapan kalsium, yang mana mineral ini sangat diperlukan untuk tulang yang lebih kuat dan dapat membantu mencegah osteoporosis dan radang sendi [6].

4. Menurunkan tekanan darah

Ketika sinar matahari mengenai kulit, tubuh pun melepaskan sesuatu yang disebut oksida nitrat ke dalam darah.

Senyawa ini dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung. Tentunya, ini sangat bermanfaat untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke [7].

Di sisi lain, perasaan tenang dan bahagia yang Anda rasakan saat berjemur juga dapat menurunkan tekanan darah secara alami.

Hal ini juga dibuktikan oleh sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Edinburgh, bahwa paparan sinar UV matahari yang moderat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara signifikan [8].

5. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Karena paparan sinar matahari secara teratur adalah salah satu cara paling kuat untuk meningkatkan kadar Vitamin D aktif di dalam tubuh, sehingga ini dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan juga.

Vitamin D membantu tubuh melawan penyakit, termasuk penyakit jantung, flu, sklerosis otot, penyakit autoimun, dan kanker tertentu [9, 10, 11, 12].

Menurut Dr. Roizen, kadar vitamin D yang tidak memadai telah dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi, kanker, dan tingkat kematian setelah operasi [1].

Dalam jurnal Enviromental Health Perspectives juga disebutkan bahwa paparan sinar matahari dapat memiliki efek imunosupresif langsung yang dapat membantu mencegah penyakit autoimun [4].

Kapan waktu terbaik berjemur di bawah sinar matahari?

Kulit menghasilkan lebih banyak vitamin D saat berada di bawah sinar matahari pada tengah hari. Sebab, pada waktu ini, matahari berada pada titik tertingginya, dan sinar UVB-nya paling intens [13].

Pastikan saat Anda menghabiskan waktu lama di bawah terik matahari, Anda menggunakan tabir surya dan tetap terhidrasi [14].

Waktu tengah hari juga dianggap lebih aman daripada berjemur di sore hari. Satu studi menemukan bahwa paparan sinar matahari sore dapat meningkatkan risiko kanker kulit yang berbahaya [15].

Durasi berjemur di bawah sinar matahari yang disarankan

Beberapa ahli kulit meyakini bahwa selama Anda tidak mengalami komplikasi dengan paparan sinar matahari biasa, Anda bisa berjemur tanpa tabir surya hingga 20 menit setiap hari [4].

Namun, untuk mengurangi risiko terbakar sinar matahari, mungkin yang terbaik adalah bertahan selama 5-10 menit.

World Health Organization (WHO) juga menyarankan untuk berjemur di bawah sinar matahari sekitar 5-15 menit, terutama di bagian lengan, tangan, dan wajah Anda, untuk mendapatkan manfaat penambah vitamin D aktif [16].

Ini akan bervariasi bergantung seberapa dekat Anda tinggal dengan garis khatulistiwa, respons normal kulit terhadap matahari, dan kualitas udara. Kualitas udara yang buruk dapat menghalangi sebagian sinar UV.

Pahami risikonya!

Berjemur terlalu lama dapat menyebabkan ruam matahari (heat rash), yang ditandai dengan kulit merah dan gatal.

Selain itu, juga dapat menyebabkan kulit terbakar (sunburn), terasa menyakitkan, terik, dan bisa mempengaruhi semua bagian tubuh, bahkan bibir Anda.

Adapula kondisi polymorphic light eruption (PMLE), atau dikenal sebagai keracunan matahari, yang juga dapat terjadi akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari.

Umumnya, gejala yang muncul adalah benjolan gatal dan merah di dada, kaki, dan lengan Anda [5].

Jadi, selalu perhatikan waktu ideal tubuh Anda untuk bisa berjemur di bawah sinar matahari tanpa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Original featured image by cookie_studio – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Imunitas

Mulai Merasakan Gejala COVID-19? Segera Lakukan 10 Hal Ini!

Merasa badan tidak enak sedikit saja di masa pandemi COVID-19 sudah dapat menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa. Terlebih lagi, jika Anda mulai merasakan gejala COVID-19.

Namun, jangan khawatir, karena ada beberapa tindakan penting yang bisa Anda lakukan untuk membuat kondisi tubuh jauh lebih baik.

Nah, apa saja hal-hal yang dapat membantu meredakan gejala COVID-19? Dan kapan Anda perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter? Yuk, cek di sini jawabannya!

Gejala COVID-19

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dengan COVID-19 mengalami sejumlah gejala yang pernah dilaporkan, mulai dari gejala ringan hingga parah [1].

Gejala COVID-19 dapat muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus, dan siapapun bisa mengalami gejala ringan hingga berat.

Jika Anda terinfeksi virus SARS-Cov-2, penyebab COVID-19, Anda mungkin akan mengalami:

Gejala lainnya yang juga dapat terjadi seperti:

  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat atau pilek.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kehilangan rasa atau bau.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang yang memiliki riwayat kesehatan mendasar yang parah (komorbid), seperti penyakit jantung, paru-paru, atau diabetes, cenderung lebih berisiko mengembangkan komplikasi penyakit COVID-19 yang lebih parah.

Gejala COVID-19 vs flu biasa

Tidak sedikit orang yang ragu dengan gejala yang dialaminya, apakah itu gejala COVID-19 atau sekadar flu biasa. Berikut beberapa poin perbedaannya [2]:

  • Gejala COVID-19 biasanya berkembang secara bertahap, sedangkan gejala flu biasanya terjadi secara tiba-tiba.
  • Sebagian besar gejala umum flu (seperti nyeri, kedinginan, dan sakit kepala) adalah gejala yang kurang umum dari penyakit COVID-19.
  • Demam adalah gejala umum COVID-19, tetapi tidak semua orang yang terserang flu juga mengalami demam.
  • Gejala awal yang umum dari flu biasa adalah sakit tenggorokan, pilek, atau hidung tersumbat, dan ini lebih jarang terjadi pada COVID-19.
  • Bersin adalah gejala umum flu biasa, tetapi jarang terjadi pada COVID-19.

Sebuah studi di Cina menyelidiki keparahan gejala COVID-19 di antara 55.924 kasus. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 80% orang mengalami gejala ringan hingga sedang, 13,8% orang mengalami gejala parah, dan 6,1% orang mengalami gejala yang sangat parah sehingga membutuhkan perawatan intensif [3].

10 Hal yang harus dilakukan saat merasakan gejala COVID-19

Begitu Anda mulai merasakan gejala COVID-19, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tetap di rumah (isolasi mandiri), kecuali jika Anda mendapatkan perawatan medis secara intensif.

Hal ini bertujuan agar Anda tetap terpisah dari orang lain dan mencegah penyebaran COVID-19.

Selama Anda isolasi mandiri, upayakan untuk tetap [2, 3, 4, 5]:

  1. Memakai masker.
  2. Menjaga jarak setidaknya 6 kaki dari orang lain.
  3. Sering-sering mencuci tangan dengan sabun dan air atau handsanitizer.
  4. Menutupi batuk dan bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah dan cuci tangan Anda.
  5. Bersihkan permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan setiap hari.
  6. Jika memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi terpisah dengan anggota keluarga lainnya.
  7. Tidak berbagi piring, cangkir, gelas minum, peralatan makan, handuk, ataupun barang pribadi lainnya dengan orang lain di rumah Anda.
  8. Pantau terus gejala yang Anda alami. Jika semakin memburuk, jangan ragu untuk menghubungi layanan medis terdekat untuk mendapatkan perawatan secara intensif.
  9. Mengikuti instruksi dokter Anda dengan baik, termasuk cara merawat diri sendiri saat sakit dan melakukan tes COVID-19.
  10. Segera dapatkan pertolongan medis jika Anda mengalami gejala COVID-19 seperti sulit bernapas, nyeri di bagian dada, tidak mampu bangun, serta kulit dan bibit berubah menjadi pucat.

Cara merawat diri sendiri di rumah saat sakit

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa kebanyakan orang yang mengalami gejala COVID-19 ringan mulai membaik setelah sekitar satu minggu [6].

Meskipun hingga saat ini tidak ada pengobatan khusus yang disetujui untuk menyembuhkan COVID-19, ada beberapa cara merawat diri sendiri di rumah jika Anda bergejala ringan, yaitu:

  • Cukup istirahat agar tubuh lebih kuat melawan infeksi virus.
  • Minum air lebih banyak agar tubuh tetap terhidrasi.
  • Jaga pola makan sehat dan bergizi seimbang. Pastikan asupan buah dan sayuran terpenuhi, karena banyak vitamin dan mineral penting di dalamnya untuk daya tahan tubuh yang kuat.
  • Anda dapat menggunakan obat yang dijual bebas untuk membantu meringankan gejala seperti demam, nyeri, dan sakit kepala.
  • Pastikan stok tisu tersedia untuk berjaga-jaga jika Anda batuk atau bersin. Ingat, selalu buang tisu ke dalam tong sampah dan cuci tangan dengan bersih setelah batuk, bersin, atau membuang ingus.
  • Jaga dan tingkatkan kekebalan tubuh Anda dengan suplemen kesehatan yang aman untuk dikonsumsi, seperti Nissan Reishi.

Nissan Reishi, suplemen terbaik untuk meningkatkan kekebalan tubuh

Nissan Reishi adalah suplemen kesehatan dari ekstrak jamur Reishi murni yang diproses secara alami, sehingga kandungan zat gizinya terjaga dengan baik.

Jamur Reishi – atau dikenal juga dengan sebutan Lingzhi – dapat membantu memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh Anda.

Ini karena jamur Reishi mengandung serat beta-glucan yang bertindak sebagai imunomodulator, sehingga dapat meningkatkan aktivitas sel makrofag dan sel pembunuh alami di dalam tubuh [7].

Selain itu, polisakarida alami dalam jamur Reishi ini juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh adaptif pada pasien kanker, di mana terjadi peningkatan kadar IgA, IgG, dan IgM setelah mereka mengonsumsi Reishi bersama dengan pengobatan kanker lainnya [8].

imunomodulator-lingzhi-japan
Original by Lingzhi Japan

Jika Anda ingin meningkatkan kekebalan tubuh Anda, sehingga gejala COVID-19 ringan yang Anda alami tidak semakin parah, Nissan Reishi bisa menjadi pelengkap terbaik upaya Anda.

Dapatkan informasi lebih lanjut tentang Nissan Reishi di sini!

Original featured image by DCStudio – www.freepik.com

Categories
Alergi Imunitas

Inilah Cara Kerja Sistem Imun Tubuh yang Perlu Dipahami

Cara kerja sistem imun di dalam tubuh memang tidak dapat Anda rasakan selama aktivitasnya berjalan dengan baik. Namun, sistem kekebalan tubuh yang melemah dapat menyebabkan Anda mudah mengalami sakit. Nah, kira-kira seperti apa sih cara kerja benteng pertahanan tubuh Anda ini? Yuk, langsung simak di sini!

Tugas sistem imun

Tahukah Anda? Tanpa sistem kekebalan, Anda tidak akan memiliki cara untuk melawan hal-hal asing dan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab itu, tugas utama sistem imunitas tubuh adalah [1]:

  • Melawan kuman penyebab penyakit (patogen), seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, dan mengeluarkannya dari tubuh Anda.
  • Mengenali dan menetralisir zat berbahaya yang masuk dari lingkungan.
  • Melawan perubahan penyebab penyakit di dalam tubuh, seperti sel kanker.

Bagian-bagian sistem imun

inilah-cara-kerja-sistem-imun-tubuh-yang-perlu-dipahami-lingzhi-japan-anatomi
Sumber: Geeky Medics

Sel darah putih (leukosit) adalah sel yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Leukosit beredar di dalam tubuh melalui pembuluh darah dan pembuluh limfatik, sejajar dengan vena dan arteri.

Sel darah putih terus berpatroli dan mencari patogen. Ketika sel ini menemukan targetnya, mereka mulai berkembang biak dan mengirim sinyal ke jenis sel lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Tubuh Anda menyimpan sel darah putih di bagian yang berbeda di dalam tubuh, yang disebut sebagai organ limfoid, meliputi [2]:

  • Kelenjar timus (di antara paru-paru dan tepat di bawah leher).
  • Kelenjar limpa (di kiri atas perut).
  • Sumsum tulang (di tengah tulang).
  • Kelenjar getah bening (di seluruh tubuh yang dihubungkan oleh pembuluh limfatik).

Ada dua jenis leukosit yang utama di dalam tubuh, yaitu [2]:

1. Fagosit

Fagosit mengelilingi dan menyerap patogen, kemudian memecahnya dan memakannya. Beberapa jenis sel fagosit di dalam tubuh, antara lain:

  • Neutrofil: paling umum dan cenderung menyerang bakteri.
  • Monosit: jenis terbesar dan memiliki beberapa peran.
  • Makrofag: berpatroli untuk patogen, serta menghilangkan sel-sel mati dan sekarat.
  • Sel mast: memiliki banyak peranan, termasuk membantu melawan patogen dan menyembuhkan luka.

2. Limfosit

Sel limfosit bertugas membantu tubuh untuk mengingat penyerbu sebelumnya dan mengenali mereka jika suatu saat menyerang lagi.

Limfosit memulai hidupnya di sumsum tulang. Beberapa tinggal di sana dan berkembang menjadi limfosit B (sel B). Beberapa ada yang menuju kelenjar timus dan berkembang menjadi limfosit T (sel T).

Kedua jenis sel ini memiliki peran yang berbeda, yaitu:

  • Limfosit B: menghasilkan antibodi dan membantu mengingatkan limfosit T.
  • Limfosit T: menghancurkan sel-sel yang terganggu di dalam tubuh dan membantu mengingatkan leukosit lainnya.

Cara kerja sistem imun tubuh

Sistem imun pertama kali diaktifkan oleh berbagai zat ‘asing’ yang tidak dikenali oleh tubuh sebagai ‘miliknya’.

Semua partikel atau zat yang memicu respons imun disebut juga dengan antigen. Misalnya bakteri, jamur, virus, toksin, atau benda asing.

Ketika antigen tersebut menempel pada reseptor khusus di sel-sel imun, seluruh rangkaian proses perlawanan dalam tubuh Anda pun dimulai. Berbagai jenis sel bekerja sama untuk mengenali antigen sebagai penyerbu.

Berikut cara kerja sistem imun di dalam tubuh [3, 4, 5]:

1. Limfosit B

Ini adalah bagian dari sel darah putih yang bertugas untuk menghasilkan antibodi setelah menemukan antigen.

Antibodi adalah protein khusus yang mengunci antigen spesifik. Setiap sel B Anda akan membuat satu antibodi spesifik.

Misalnya, Anda mungkin membuat antibodi terhadap bakteri yang menyebabkan pneumonia, sementara yang lain mungkin mengenali virus flu biasa.

Berbagai antibodi yang memainkan banyak peran dalam respons imun, yaitu:

  • Immunoglobulin G (IgG): menandai mikroba, sehingga sel lain dapat mengenali dan membunuhnya.
  • IgM: membunuh bakteri.
  • IgA: berkumpul dalam cairan, seperti air mata dan air liur, untuk melindungi pintu gerbang tubuh Anda.
  • IgE: melindungi dari parasit dan juga bertanggung jawab atas reaksi alergi.
  • IgD: terikat pada limfosit B yang membantu mereka untuk memulai respons imun.

Antibodi ini akan mengunci antigen, tetapi tidak membunuhnya. Jadi, hanya menandainya untuk dimatikan. Sementara yang bertugas untuk membunuhnya adalah sel lain, seperti fagosit.

2. Limfosit T

Ada beberapa jenis limfosit T yang perlu diketahui, yaitu:

Sel T pembantu (helper T cells)

Sel ini bertugas mengoordinasikan respons imun Anda. Beberapa ada yang berkomunikasi dengan sel lain, dan beberapa merangsang limfosit B untuk menghasilkan lebih banyak antibodi. Ada pula yang menarik lebih banyak limfosit T atau fagosit pemakan sel.

Sel T pembunuh (killer T cells)

Seperti namanya, jenis limfosit T ini bertugas menyerang sel lain, alias memerangi virus. Sel-sel ini bekerja dengan cara mengenali bagian-bagian kecil dari virus di luar sel yang terinfeksi dan menghancurkan sel yang terinfeksi.

Limfosit B diibaratkan sebagai sistem intelijen militer tubuh, yang bertugas menemukan targetnya dan mengirim pertahanan untuk mengunci mereka. Sementara limfosit T diibaratkan sebagai tentara, yang bertugas menghancurkan penjajah yang telah ditemukan oleh sistem intelijen [4].

Sel-sel tubuh Anda pun sebenarnya juga memiliki protein di permukaannya. Namun, protein ini biasanya tidak memicu sistem kekebalan untuk melawan sel tersebut.

Dalam beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh secara keliru mengira bahwa sel-sel tubuhnya adalah asing. Akhirnya, menyerang sel-sel yang sehat dan tidak berbahaya tersebut. Inilah yang akhirnya dikenal sebagai gangguan autoimun.

Kesimpulan

Inilah cara kerja sistem imun di dalam tubuh yang perlu Anda pahami. Sel-selnya saling bekerja sama untuk melindungi tubuh Anda dari berbagai zat berbahaya. Oleh sebab itu, Anda harus menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda, agar tidak mudah terserang penyakit.

Original featured image by tirachardz – www.freepik.com

Categories
Gaya Hidup Imunitas

Kenali Vaksin dan Cara Kerjanya di dalam Tubuh!

Sudahkah Anda melakukan vaksinasi COVID-19? Saat ini, proses vaksinasi masih gencar dilakukan untuk mencapai herd immunity. Sebenarnya, apa itu vaksin? Seperti apa cara kerjanya di dalam tubuh? Apakah aman atau justru berbahaya, ya? Daripada Anda bingung memikirkan jawabannya, langsung saja simak artikel berikut ini, yuk!

Apa itu vaksin?

Vaksin adalah suspensi mikroorganisme atau racun yang telah dilemahkan, terbunuh, atau terfragmentasi yang diberikan untuk mencegah penyakit [1].

Yaps, vaksin mengandung kuman yang sama dengan penyebab penyakit yang ingin dicegah. Misalnya, vaksin campak mengandung virus campak, vaksin Hib mengandung bakteri Hib, dan vaksin COVID-19 mengandung virus corona yang telah dimatikan.

Menurut World Health Organization (WHO), vaksinasi adalah cara sederhana, aman, dan efektif untuk melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dari penyakit berbahaya [2].

Ini juga merupakan cara tubuh untuk membangun pertahanan alami yang kuat terhadap virus, bakteri, atau mikroorganisme penyebab penyakit infeksi.

Vaksin melatih sistem kekebalan Anda untuk membuat antibodi, sama halnya saat Anda terinfeksi penyakit.

Tenang saja, vaksin hanya mengandung kuman yang sudah dimatikan, sehingga tidak menyebabkan penyakit, membuat gejala penyakit semakin parah, ataupun meningkatkan risiko komplikasi penyakit.

Sebagian besar vaksin diberikan secara injeksi (suntikan). Namun, ada juga yang diberikan secara oral (melalui mulut) atau disemprotkan ke dalam hidung.

Hingga saat ini, sudah banyak vaksin yang tersedia untuk melindungi dari setidaknya 20 penyakit, termasuk tetanus, difteri, pertusis, influenza, dan campak.

Vaksinasi sudah membantu menyelamatkan hingga 3 juta nyawa setiap tahun,” – WHO.

Bagaimana cara kerja vaksin di dalam tubuh?

vaksin-dan-cara-kerjanya-di-dalam-tubuh-lingzhi-japan-img-who
Sumber gambar dari WHO (2020)

Seperti yang telah disebutkan, cara kerja vaksin adalah dengan merangsang sistem kekebalan tubuh Anda untuk menghasilkan antibodi, persis saat Anda terkena penyakit.

Begitu Anda selesai divaksinasi, tubuh Anda akan mengembangkan pertahanannya terhadap penyakit itu tanpa harus terkena penyakitnya terlebih dahulu.

Untuk lebih jelasnya, cara kerja vaksin adalah dengan 3M, yaitu [2]:

  • Mengenali kuman yang menyerang.
  • Menghasilkan antibodi.
  • Mengingat penyakit dan cara melawannya.

Alhasil, jika Anda terkena kuman di suatu hari nanti, sistem kekebalan tubuh Anda sudah dapat mengenali dan menghancurkannya dengan cepat sebelum Anda menjadi sakit.

Sebenarnya, ini sama dengan cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda. Jadi, bisa dikatakan vaksin meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda.

Hal inilah yang membuatnya menjadi ‘obat’ yang sangat ampuh untuk menangani penyakit infeksi. Tidak seperti kebanyakan obat yang digunakan untuk mengobati atau menyembuhkan, vaksin digunakan untuk mencegah penyakit menular, terutama yang belum ada obatnya [3].

Cara kerja vaksin COVID-19

Vaksin COVID-19 tentunya digunakan untuk membantu tubuh Anda mengembangkan kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa harus terkena penyakitnya.

Tubuh memiliki persediaan ‘sel memori’ (limfosit-T) dan sel penghasil antibodi (limfosit-B) untuk mengingat dan melawan kuman, virus, dan zat asing yang masuk ke tubuh di kemudian hari.

Umumnya, tubuh Anda perlu waktu seminggu setelah vaksinasi untuk bisa memproduksi limfosit-T dan limfosit-B.

Maka dari itu, Anda masih berkemungkinan terinfeksi virus penyebab COVID-19 sesaat sebelum ataupun setelah vaksinasi dan kemudian, jatuh sakit karena vaksin tidak punya cukup waktu untuk melindungi Anda.

Ada pula kasusnya setelah vaksinasi COVID-19 sebagian orang mengalami sejumlah gejala, seperti demam, pusing, sakit kepala, dan lainnya. Hal ini normal terjadi dan menandakan kalau tubuh Anda sedang membangun kekebalannya terhadap virus [4, 5, 6].

Vaksinasi dan herd immunity

Tujuan vaksinasi tidak hanya melindungi individu saja, melainkan juga seluruh populasi.

Begitu banyak orang yang sudah divaksinasi, peluang untuk berjangkitnya penyakit menjadi sangat rendah. Bahkan, orang yang tidak divaksinasi pun bisa mendapatkan manfaatnya.

Pada dasarnya, virus atau bakteri tidak akan memiliki cukup ‘host‘ yang memenuhi syarat sebagai pijakan dan akhirnya, mati secara menyeluruh.

Fenomena inilah yang disebut sebagai herd immunity atau kekebalan komunitas. Ini memungkinkan penyakit yang dulunya mematikan dapat dihilangkan sepenuhnya tanpa perlu memvaksinasi setiap individu.

Siapa saja yang tidak dapat divaksinasi? Ini termasuk kelompok bayi, anak kecil, orang tua, orang dengan alergi parah, ibu hamil, atau orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Bila herd immunity tercapai, kelompok yang tidak divaksinasi tetap aman, karena tidak ada kesempatan untuk penyakit menyebar melalui suatu populasi.

Sudah ada satu contoh nyata dari negara Gambia yang menunjukkan bahwa tingkat vaksinasi hanya 70% dari populasi sudah cukup untuk menghilangkan penyakit Hib sepenuhnya [7].

Namun ingat, bukan berarti Anda mengabaikan vaksinasi. Jika terlalu banyak orang yang mengabaikannya, maka kekebalan kelompok dapat rusak dan semakin meningkatkan risiko populasi terserang wabah.

Original featured image by freepik – www.freepik.com