Categories
Gaya Hidup Imunitas

Kenali Vaksin dan Cara Kerjanya di dalam Tubuh!

Vaksin adalah suspensi mikroorganisme atau racun yang telah dilemahkan, terbunuh, atau terfragmentasi yang diberikan untuk mencegah penyakit.

Sudahkah Anda melakukan vaksinasi COVID-19? Saat ini, proses vaksinasi masih gencar dilakukan untuk mencapai herd immunity. Sebenarnya, apa itu vaksin? Seperti apa cara kerjanya di dalam tubuh? Apakah aman atau justru berbahaya, ya? Daripada Anda bingung memikirkan jawabannya, langsung saja simak artikel berikut ini, yuk!

Apa itu vaksin?

Vaksin adalah suspensi mikroorganisme atau racun yang telah dilemahkan, terbunuh, atau terfragmentasi yang diberikan untuk mencegah penyakit [1].

Yaps, vaksin mengandung kuman yang sama dengan penyebab penyakit yang ingin dicegah. Misalnya, vaksin campak mengandung virus campak, vaksin Hib mengandung bakteri Hib, dan vaksin COVID-19 mengandung virus corona yang telah dimatikan.

Menurut World Health Organization (WHO), vaksinasi adalah cara sederhana, aman, dan efektif untuk melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dari penyakit berbahaya [2].

Ini juga merupakan cara tubuh untuk membangun pertahanan alami yang kuat terhadap virus, bakteri, atau mikroorganisme penyebab penyakit infeksi.

Vaksin melatih sistem kekebalan Anda untuk membuat antibodi, sama halnya saat Anda terinfeksi penyakit.

Tenang saja, vaksin hanya mengandung kuman yang sudah dimatikan, sehingga tidak menyebabkan penyakit, membuat gejala penyakit semakin parah, ataupun meningkatkan risiko komplikasi penyakit.

Sebagian besar vaksin diberikan secara injeksi (suntikan). Namun, ada juga yang diberikan secara oral (melalui mulut) atau disemprotkan ke dalam hidung.

Hingga saat ini, sudah banyak vaksin yang tersedia untuk melindungi dari setidaknya 20 penyakit, termasuk tetanus, difteri, pertusis, influenza, dan campak.

Vaksinasi sudah membantu menyelamatkan hingga 3 juta nyawa setiap tahun,” – WHO.

Bagaimana cara kerja vaksin di dalam tubuh?

vaksin-dan-cara-kerjanya-di-dalam-tubuh-lingzhi-japan-img-who
Sumber gambar dari WHO (2020)

Seperti yang telah disebutkan, cara kerja vaksin adalah dengan merangsang sistem kekebalan tubuh Anda untuk menghasilkan antibodi, persis saat Anda terkena penyakit.

Begitu Anda selesai divaksinasi, tubuh Anda akan mengembangkan pertahanannya terhadap penyakit itu tanpa harus terkena penyakitnya terlebih dahulu.

Untuk lebih jelasnya, cara kerja vaksin adalah dengan 3M, yaitu [2]:

  • Mengenali kuman yang menyerang.
  • Menghasilkan antibodi.
  • Mengingat penyakit dan cara melawannya.

Alhasil, jika Anda terkena kuman di suatu hari nanti, sistem kekebalan tubuh Anda sudah dapat mengenali dan menghancurkannya dengan cepat sebelum Anda menjadi sakit.

Sebenarnya, ini sama dengan cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda. Jadi, bisa dikatakan vaksin meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh Anda.

Hal inilah yang membuatnya menjadi ‘obat’ yang sangat ampuh untuk menangani penyakit infeksi. Tidak seperti kebanyakan obat yang digunakan untuk mengobati atau menyembuhkan, vaksin digunakan untuk mencegah penyakit menular, terutama yang belum ada obatnya [3].

Cara kerja vaksin COVID-19

Vaksin COVID-19 tentunya digunakan untuk membantu tubuh Anda mengembangkan kekebalan terhadap virus penyebab COVID-19 tanpa harus terkena penyakitnya.

Tubuh memiliki persediaan ‘sel memori’ (limfosit-T) dan sel penghasil antibodi (limfosit-B) untuk mengingat dan melawan kuman, virus, dan zat asing yang masuk ke tubuh di kemudian hari.

Umumnya, tubuh Anda perlu waktu seminggu setelah vaksinasi untuk bisa memproduksi limfosit-T dan limfosit-B.

Maka dari itu, Anda masih berkemungkinan terinfeksi virus penyebab COVID-19 sesaat sebelum ataupun setelah vaksinasi dan kemudian, jatuh sakit karena vaksin tidak punya cukup waktu untuk melindungi Anda.

Ada pula kasusnya setelah vaksinasi COVID-19 sebagian orang mengalami sejumlah gejala, seperti demam, pusing, sakit kepala, dan lainnya. Hal ini normal terjadi dan menandakan kalau tubuh Anda sedang membangun kekebalannya terhadap virus [4, 5, 6].

Vaksinasi dan herd immunity

Tujuan vaksinasi tidak hanya melindungi individu saja, melainkan juga seluruh populasi.

Begitu banyak orang yang sudah divaksinasi, peluang untuk berjangkitnya penyakit menjadi sangat rendah. Bahkan, orang yang tidak divaksinasi pun bisa mendapatkan manfaatnya.

Pada dasarnya, virus atau bakteri tidak akan memiliki cukup ‘host‘ yang memenuhi syarat sebagai pijakan dan akhirnya, mati secara menyeluruh.

Fenomena inilah yang disebut sebagai herd immunity atau kekebalan komunitas. Ini memungkinkan penyakit yang dulunya mematikan dapat dihilangkan sepenuhnya tanpa perlu memvaksinasi setiap individu.

Siapa saja yang tidak dapat divaksinasi? Ini termasuk kelompok bayi, anak kecil, orang tua, orang dengan alergi parah, ibu hamil, atau orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Bila herd immunity tercapai, kelompok yang tidak divaksinasi tetap aman, karena tidak ada kesempatan untuk penyakit menyebar melalui suatu populasi.

Sudah ada satu contoh nyata dari negara Gambia yang menunjukkan bahwa tingkat vaksinasi hanya 70% dari populasi sudah cukup untuk menghilangkan penyakit Hib sepenuhnya [7].

Namun ingat, bukan berarti Anda mengabaikan vaksinasi. Jika terlalu banyak orang yang mengabaikannya, maka kekebalan kelompok dapat rusak dan semakin meningkatkan risiko populasi terserang wabah.

Original featured image by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *