Categories
Imunitas Kanker Kelelahan

Waspada Badai Sitokin! Apakah Ini?

Badai sitokin adalah kondisi di mana sistem kekebalan memproduksi sejumlah besar sitokin hingga menciptakan respons inflamasi berlebihan.

Patogenesis virus corona baru (SARS-CoV-2) dan penyakit COVID-19 yang diakibatkannya sangatlah bervariasi. Ini karena beberapa individu yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala, sedangkan yang lain bisa sangat menderita. Badai sitokin tampaknya memainkan peran langsung dalam menentukan tingkat keparahan COVID-19.

Apa sebenarnya badai sitokin? Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Berikut ulasannya!

Apa itu badai sitokin?

Badai sitokin adalah suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh memproduksi sejumlah besar sitokin yang dilepaskan ke dalam aliran darah dalam waktu singkat, sehingga menciptakan respons peradangan yang tidak terkendali (berlebihan) [1, 2].

Istilah badai sitokin atau hipersitokinemia, muncul pertama dalam artikel tahun 1993 yang membahas penyakit graft-versus-host. Namun, sejak tahun 2000, istilah ini telah dirujuk dalam berbagai penyakit menular [3].

Maka dari itu, hipersitokinemia paling sering digunakan untuk menggambarkan respons inflamasi yang tidak terkendali oleh sistem kekebalan tubuh.

Sitokin sendiri merupakan glikoprotein kecil yang diproduksi oleh berbagai jenis sel di seluruh tubuh. Begitu dilepaskan, sitokin dapat meningkatkan berbagai fungsi tubuh.

Beberapa di antaranya melibatkan kontrol proliferasi dan diferensiasi sel, autokrin, parakrin dan/atau aktivitas endokrin, serta mengatur respons imun dan peradangan dalam tubuh [4].

Peradangan adalah respons normal saat tubuh terinfeksi oleh virus atau bakteri. Selama proses ini, badai sitokin pun juga dapat terjadi di mana berbagai sitokin inflamasi diproduksi pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Sayangnya, produksi sitokin yang berlebihan justru dapat menyebabkan umpan balik positif pada sel imun. Hal ini memungkinkan lebih banyak sel imun yang direkrut ke bagian tubuh yang cedera, hingga menyebabkan kerusakan organ.

Salah satu kondisi klinis yang paling menonjol terkait dengan hipersitokinemia adalah sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), yang telah menyebabkan sejumlah besar kematian akibat SARS-CoV-2.

Gejala

Tanda dan gejala badai sitokin, meliputi [1, 2, 5]:

  • Demam tinggi.
  • Kulit kemerahan.
  • Pembengkakan ekstremitas.
  • Kelelahan.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit otot dan sendi.
  • Sakit kepala.
  • Ruam.
  • Batuk.
  • Sesak napas.
  • Kejang.
  • Sulit mengkoordinasikan gerakan.
  • Mengalami kebingungan dan halusinasi.
  • Kelesuan dan respons yang buruk.

Pembuluh darah adalah organ paling penting yang menahan serangan, di mana badai sitokin membuat dinding pembuluh darah Anda lebih mudah ditembus.

Akibatnya, pembuluh darah arteri, vena, dan kapiler semuanya mulai mengeluarkan darah dan plasma.

Hipersitokinemia juga dapat memicu pelepasan oksida nitrat dalam jumlah besar yang dapat mengencerkan darah dan menghancurkan pembuluh darah.

Pada akhirnya, kondisi tersebut menurunkan tekanan darah hingga ke tingkat yang berbahaya, sehingga penderita hipersitokinemia tidak mati karena kehilangan darah, tetapi karena mengalami syok septik yang parah [6].

Tingkat keparahan gejala bisa bervariasi pada setiap orang yang mengalaminya. Dalam kasus yang parah, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan organ dan mengancam jiwa [1, 2, 5].

Penyebab badai sitokin

Para ilmuwan hingga saat ini masih terus berupaya untuk memahami jaringan kompleks penyebab badai sitokin dimulai. Namun, beberapa masalah kesehatan berikut diduga dapat mendasarinya terjadi [5].

1. Sindrom genetik

Orang dengan sindrom genetik tertentu cenderung mengalami badai sitokin. Misalnya, penyakit familial hemophagocytic lymphohistiocytosis, yang menyebabkan masalah spesifik pada sel imun tertentu.

Masalah genetik dalam kelompok ini cenderung mengembangkan hipersitokinemia sebagai respons tubuh terhadap infeksi yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan pertama kehidupan.

2. Infeksi

Jenis infeksi tertentu juga dapat memicu hipersitokinemia, termasuk oleh virus, bakteri, dan agen lainnya. Salah satu jenis yang paling umum adalah badai sitokin dari virus influenza A (penyebab flu biasa).

Meskipun kebanyakan orang tidak mengalami hipersitokinemia, jenis infeksi tertentu lebih mungkin menyebabkannya daripada yang lain.

Sementara itu, virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 tampaknya lebih rentan menyebabkan badai sitokin dibandingkan dengan penyakit yang disebabkan oleh beberapa virus lain. Namun, alasannya masih belum jelas sepenuhnya.

3. Penyakit autoimun

Orang dengan sindrom autoimun berisiko lebih tinggi terkena sindrom badai sitokin, misalnya penyakit arthritis idiopatik remaja sistemik (JIA) dan lupus. Dalam konteks ini, badai sitokin sering disebut dengan sindrom aktivasi makrofag.

Jenis hipersitokinemia ini mungkin terjadi ketika penyakit yang mendasari seseorang sedang bergejolak, atau saat orang tersebut juga mengalami beberapa jenis infeksi lainnya.

4. Penyebab lainnya

Hipersitokinemia juga terkadang merupakan efek samping dari terapi medis tertentu, seperti terapi leukemia (CAR-T) atau jenis imunoterapi lainnya.

Terjangan hipersitokinemia juga dapat terjadi dalam situasi medis lainnya, seperti setelah menerima transplantasi organ atau sel induk.

Jenis kanker tertentu juga dapat menyebabkan sindrom badai sitokin, seperti AIDS dan sepsis.

Badan sitokin dan COVID-19

diagram-badai-sitokin-pada-covid-19-lingzhi-japan
Sumber gambar: Frontiers

Sebagian besar kasus COVID-19 tidak mengembangkan hipersitokinemia. Namun, baru-baru ini, ada dugaan bahwa perkembangan infeksi SARS-CoV-2 berkaitan dengan hipersitokinemia, di mana tingkat badai sitokin yang lebih tinggi menunjukkan perkembangan penyakit yang lebih parah.

Para ahli menduga kondisi ini disebabkan oleh [7]:

  • Respons imun disfungsional pada beberapa pasien. Respon imun yang tidak terkendali terhadap patogen dapat menyebabkan imunopatogenesis yang dapat berakibat fatal, menyebabkan peradangan yang berlebihan, bahkan kematian.
  • Respons interferon (IFN) disregulasi. Akibatnya, gagal untuk membersihkan patogen secara efektif dan replikasi virus persisten yang menyebabkan respons inflamasi memburuk dan peningkatan produksi sitokin.
  • Faktor lain seperti piroptosis, yaitu bentuk inflamasi dari kematian sel terprogram yang dipicu oleh peningkatan angiotensin II setelah gangguan sistem renin-angiotensin.

Pengobatan

Sejumlah besar terapi anti-inflamasi masih terus diteliti untuk mengobati hipersitokinemia pada COVID-19. Sejauh ini, para peneliti merekomendasikan agar imunoterapi diberikan pada saat diagnosis hipersitokinemia.

Hal ini bertujuan mengurangi efek merusak yang dapat ditimbulkan hipersitokinemia pada individu yang positif COVID-19.

Beberapa strategi imunoterapi penting yang telah diusulkan, termasuk antibodi penawar (dapat diperoleh dari plasma pasien yang sebelumnya selamat dari infeksi COVID-19), penghambat IFN, penghambat fosfolipid teroksidasi (OxPL), dan sphingosine-1-phosphate receptors 1 (S1P1) antagonists [4].

Studi klinis lebih lanjut masih harus dilakukan untuk mengevaluasi pilihan pengobatan tersebut sepenuhnya, sehingga berhasil menghambat badai sitokin yang disebabkan oleh COVID-19.

Original featured image by prostooleh – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *